
SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Nilai ekspor Provinsi Kalimantan Timur pada Maret 2026 tercatat US$1.518,21 juta, atau turun sebesar 9,23 persen dibandingkan dengan Februari 2026.
Ekspor migas Maret 2026 tercatat sebesar US$114,02 juta, atau turun sebesar 50,18 persen dibandingkan dengan Februari 2026. Sementara itu, ekspor nonmigas tercatat US$1.404,19 juta, atau turun sebesar 2,74 persen.
Demikian disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim, Mas’ud Rifai dalam siaran resminya yang disampaikan secara daring, Senin (4/5/2026).
Sementara nilai impor Provinsi Kalimantan Timur pada Maret 2026 tercatat sebesar US$631,68 juta, atau naik sebesar 81,81 persen jika dibandingkan dengan nilai impor Februari 2026.
“Nilai impor migas tercatat sebesar US$561,01 juta, atau naik sebesar 113,94 persen dibandingkan dengan nilai impor Februari 2026. Sebaliknya, nilai impor nonmigas Maret 2026 tercatat sebesar US$70,67 juta, atau turun sebesar 17,06 persen,” kata Mas’ud.
Neraca perdagangan Provinsi Kalimantan Timur pada Maret 2026 mengalami surplus sebesar US$886,52 juta. Neraca perdagangan sektor nonmigas tercatat surplus sebesar US$1.333,51 juta, sebaliknya sektor migas tercatat defisit sebesar US$446,99 juta.
Catatan Peristiwa Global
BPS Kaltim juga menyampaikan catatan peristiwa global terkait Mitra dagang utama Kalimantan Timur, antara lain mpor CPO Malaysia menurun sebesar 20 persen (m-to-m) pada Maret 2026, dari 847 ribu ton menjadi 680 ribu ton.
Impor pupuk Vietnam meningkat tajam dari $81 juta menjadi $148 juta atau sebesar 82,46 persen (m-to-m). Hal serupa terjadi pada impor China yang juga meningkat sebesar 104,67 persen (m-to-m). Impor minyak Malaysia menurun sangat tajam, yaitu sebesar 60,6 persen (y-on-y).
Harga minyak dunia melonjak tajam pada Maret 2026, mencapai $111 per barel atau naik sebesar 19,8 persen (m-to-m). Hal ini terjadi akibat adanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Impor batu bara China pada Maret 2026 dari Indonesia mengalami penurunan sebesar 14 persen (y-on-y). China mulai melakukan impor batu bara dari sumber dekat, seperti Mongolia, dan mengurangi ketergantungan pada seaborne coal (Indonesia dan Australia). Total impor batu bara India pada Maret 2026 naik menjadi 20,8 juta ton atau sebesar 8 persen (m-to-m).
Negara-negara di ASEAN, seperti Filipina, Vietnam, dan Thailand, meningkatkan impor batu bara sebagai sumber peralihan energi dari LNG yang stoknya semakin menipis akibat konflik Timur Tengah.
Penulis: Intoniswan | Editor: Intoniswan
Tag: Eksim Kaltim