
TENGGARONG.NIAGA.ASIA – Fenomena candaan yang berulang di kalangan pelajar kini menjadi perhatian serius Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Kutai Kartanegara (Kukar). Pasalnya, kebiasaan yang awalnya dianggap sepele tersebut kerap berkembang menjadi bentuk bullying terselubung yang berdampak pada kondisi psikologis siswa.
Hal tersebut disampaikan Kepala Satpol-PP Kukar Arfan Boma Pratama melalui Kepala Seksi (Kasi) Penyidik dan Penyelidikan Awang Indra saat kegiatan sosialisasi dalam program Satpol-PP Goes to School yang digelar di SMK Geologi Pertambangan, Tenggarong, Rabu (29/4/2026).
“Kami menitikberatkan pada bullying dan disiplin, karena di lapangan kami sering menemukan pelajar-pelajar yang terdampak dari bullying,” ujarnya.
Candaan yang tidak terkontrol dan dilakukan berulang kali, dapat berubah menjadi tekanan mental bagi korban. Bahkan, dalam beberapa kasus yang ditangani, kondisi ini berdampak serius hingga memerlukan penanganan lintas instansi.
“Terakhir kami menangani ada salah satu pelajar di sini sampai mengalami kondisi yang cukup berat akibat bullying. Penanganannya melibatkan Dinas Sosial (Dinsos) dan Dinas Kesehatan (Dinkes),” jelasnya.
Menurutnya, bentuk bullying yang paling dominan saat ini bukan lagi kekerasan fisik, melainkan verbal. Ucapan yang dianggap sebagai gurauan justru lebih membekas dan memengaruhi kondisi psikologis remaja.
“Kalau fisik memang sudah mulai berkurang, tapi secara verbal ini yang lebih mengena. Apalagi didukung dengan lingkungan media sosial yang memperbesar dampaknya,” terangnya.
Peran media sosial menjadi faktor yang memperkuat efek dari candaan tersebut. Interaksi yang terus berulang, baik secara langsung maupun di dunia maya, membuat tekanan yang dirasakan korban semakin berat.
Sebagai langkah pencegahan, Satpol-PP Kukar mengedepankan pendekatan edukatif melalui program Satpol-PP Goes to School. Tujuan program ini, tak lain untuk memberikan pemahaman kepada para pelajar mengenai batasan dalam berinteraksi serta dampak dari perilaku bullying.
“Harapan kami kegiatan ini berkelanjutan. Tidak hanya dari Satpol-PP saja, tapi juga melibatkan dinas terkait seperti Dinkes dan Dinas Perlindungan Anak,” tegasnya.
Program tersebut ditargetkan menyasar lima sekolah dalam satu bulan. Hingga saat ini, sosialisasi telah dilaksanakan di tiga sekolah, yakni SMA YPK, SMK YPK, dan SMK Geologi Pertambangan, dengan rencana lanjutan ke SMK Ketopong dan SMK Negeri 2 Tenggarong.
Ke depannya, cakupan program juga akan diperluas hingga ke jenjang SMP setelah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kukar.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Geologi Pertambangan, Leni Legawati, menyambut baik kehadiran Satpol-PP dalam memberikan edukasi kepada siswa.
“Bullying itu awalnya memang sering dianggap bercanda. Tapi kalau dilakukan terus-menerus, dampaknya bisa ke psikis anak. Bahkan bisa membuat mereka malas sekolah,” tuturnya.
Sosialisasi semacam ini dinilai penting untuk membuka pemahaman siswa tentang batasan dalam bercanda dan pentingnya menjaga kondisi mental sesama teman.
“Harapan kami kegiatan seperti ini tidak hanya sekali. Kalau bisa menjangkau lebih banyak siswa, agar edukasi tentang bullying benar-benar mengena,” katanya.
Leni juga menyebutkan bahwa, sejauh ini pihak sekolah sudah berupaya cepat tanggap terhadap potensi-potensi bullying agar tidak berkembang menjadi kasus yang lebih serius.
Dengan adanya kolaborasi antara Satpol-PP dan pihak sekolah, diharapkan fenomena candaan yang berujung bullying dapat ditekan, serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman dan sehat bagi para pelajar.
Penulis: Lydia Apriliani | Editor: Intoniswan
Tag: BullyingSatpol PP