
BALIKPAPAN.NIAGA.ASIA – Perkembangan harga di dua daerah, Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), menunjukkan tren yang semakin stabil pada April 2026.
Berdasarkan rilis Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, laju inflasi di kedua wilayah itu tercatat melandai, seiring normalisasi aktivitas masyarakat pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).
Kondisi itu ditopang oleh terjaganya pasokan dan stok bahan pangan strategis, serta penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).
Ke depan, inflasi diyakini tetap berada dalam target nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen.
Deputi Direktur KPwBI Balikpapan, Robi Ariadi, menyampaikan stabilitas harga saat ini merupakan hasil sinergi berbagai pihak.
“Permintaan masyarakat sudah kembali normal setelah Idulfitri, sementara ketersediaan pasokan tetap terjaga. Ini menjadi faktor utama inflasi yang semakin terkendali,” kata Robi, dalam keterangan resmi, Selasa 5 Mei 2026.
Secara bulanan, Balikpapan mencatat deflasi sebesar 0,05 persen (month to month/mtm). Penurunan ini terutama dipicu turunnya harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Komoditas seperti daging ayam ras, ikan layang, dan cabai rawit mengalami penurunan harga akibat meningkatnya pasokan, baik dari daerah lokal maupun luar Kalimantan.
Selain itu, membaiknya hasil tangkapan nelayan serta masuknya masa panen di sejumlah daerah sentra, turut menekan harga komoditas pangan.
Penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan dan bahan bakar rumah tangga, seiring tren global dan normalisasi konsumsi masyarakat.
Di sisi lain, sektor transportasi menjadi penyumbang inflasi terbesar di Balikpapan, dengan andil 0,13 persen (mtm). Kenaikan ini dipengaruhi penyesuaian tarif penerbangan sebagai dampak naiknya harga avtur.
Beberapa komoditas hortikultura seperti tomat, semangka, dan kangkung juga mengalami kenaikan akibat tingginya curah hujan yang memengaruhi produksi.
Sementara itu, Kabupaten PPU masih mencatat inflasi sebesar 0,33 persen (mtm), meski lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Tekanan harga terutama berasal dari komoditas pangan seperti tomat, bawang merah, dan minyak goreng yang mengalami keterbatasan pasokan.
“Faktor cuaca dan distribusi masih menjadi tantangan utama, terutama untuk komoditas pangan segar dan bahan pokok tertentu,” tambah Robi.
Secara tahunan, inflasi Balikpapan tercatat 2,19 persen (year on year) dan PPU sebesar 2,10 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan angka nasional yang mencapai 2,42 persen.
Meski tren inflasi menunjukkan perbaikan, sejumlah risiko tetap perlu diwaspadai. Peralihan ke musim kemarau mulai pertengahan 2026 berpotensi menekan produksi pertanian, termasuk di Pulau Jawa sebagai pemasok utama.
Selain itu, peningkatan permintaan pangan akibat ekspansi program pemerintah juga berisiko memicu tekanan harga.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Bank Indonesia bersama TPID terus memperkuat langkah pengendalian, mulai dari operasi pasar, distribusi bantuan pangan, hingga penguatan kerja sama antar daerah.
“Sinergi TPID akan terus diperkuat melalui berbagai program strategis agar stabilitas harga tetap terjaga dan daya beli masyarakat tidak terganggu,” jelas Robi.
Penulis: Heri | Editor: Saud Rosadi
Tag: BalikpapanBank IndonesiaInflasi