Tujuh PMI Deportasi di Nunukan Positif Covid-19

Rusun penampung PMI deportasi di Nunukan. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sebanyak 7 eks Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang dideportasi Malaysia ke Indonesia melalui Kabupaten Nunukan dan saat ini menjalani karantina di komplek Rusunawa Nunukan, terkonfirmasi positif Covid-19.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Nunukan, Aris Suyono dalam press release hari ini, Sabtu (18/12/2021) mengatakan, 7 eks PMI yang terkonformasi positif  itu telah beberapa hari menjalani karantina di komplek Rusunawa Nunukan.

“Hasil PCR pertama saat kedatangan PMI tanggal 13 Dersember ditemukan 3 orang positif, kemudian PCR kedua ditemukan lagi 4 kasus, jadi total 7 kasus,” katanya, Sabtu (18/12).

Terhadap 3 kasus positif PCR kedatangan eks PMI, Pemerintah Nunukan sebagaimana  hasil pemeriksaan kesehatan memutuskan 2 orang dirujuk ke ruang isolasi penanganan Covid-19 RSUD Nunukan.

Sedangkan 1 orang yang kondisi kesehatannya tidak membahayakan menjalani karantina di Rusunawa selama 10 hari bersama rombongan PMI lainnya dengan ruang terpisah atau pemisahan blok.

“Hasil PCR follow up untuk 3 orang ini masih positif ditambah lagi kasus baru hari 4 orang,” jelasnya.

Eks PMI yang sebelumnya menjalani perawatan di RSUD telah dikembalikan ke Rusunawa Nunukan tanggal 17 Desember 2021 untuk  melanjutkan karantina. Begitu pula terhadap 4 PMI kasus positif terbaru berusia antara 18 – 52 tahun hanya menjalani karantina.

Dengan bertambahnya kasus positif, total konfirmasi positif hingga minggu ke 50 tahun 2021 berjumlah 6.240 kasus, dengan angka kesembuhan 6.096 atau 97,69 persen, adapun angka kematian 137 atau 2,20 persen.

“Temuan kasus positif minggu ini berasal dari deportan PMI, belum ada warga – warga umum,” terangnya.

Rusunawa Nunukan saat ini menampung 229 eks PMI deportasi kota Kinabalu, Sabah Malaysia, yang sesuai rencana akan dipulangkan ke daerah asal masing-masing setelah menyelesaikan karantian selama 10 hari.

Pemulangan PMi sendiri menggunakan transportasi laut kapal PT Pelni dibiayai melalui dana sheering antara BP2MI Nunukan dengan Kementerian Sosial RI.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag: