Oleh : Riyawan S,Hut, Pemerhati Sosial dan Budaya

Pernah nggak sih, lagi asyik scroll TikTok atau Instagram, tiba-tiba hati terasa “cenat-cenut”? Pagi lihat teman nongkrong di Samarinda kerja remote sambil ngopi santai, siang mantan gebetan upload foto sepatu baru, sore influencer favorit pamer iPhone terbaru yang kinclong. Sekilas terlihat sepele, tapi lama-lama muncul pikiran “Kok hidup orang lain mulus banget ya?”
Fenomena ini makin terasa nyata, terutama di Kalimantan Timur. Bukan cuma bikin baper sesaat, tapi perlahan bisa menggerogoti rasa percaya diri. Tanpa sadar, kita terjebak dalam satu konsep lama yang sebenarnya sudah lama diingatkan leluhur yakni Wang Sinawang.
Secara sederhana, “Wang Sinawang” berasal dari bahasa Jawa. Kata sawang berarti melihat, sedangkan sinawang berarti saling melihat. Filosofi lengkapnya berbunyi “Urip iku mung sawang sinawang, mula aja mung nyawang sing kesawang.” Artinya, hidup itu hanyalah soal saling memandang, jadi jangan mudah percaya hanya pada apa yang terlihat.
Menariknya, pesan ini sudah ada sejak zaman dulu, bahkan sebelum ada media sosial, filter wajah, atau kamera HD. Leluhur kita sudah paham bahwa apa yang terlihat belum tentu mencerminkan kenyataan.
Di era sekarang, filosofi ini justru makin relevan. Media sosial membuat kita terus-menerus terpapar kehidupan orang lain yang sudah “dipoles”. Feed Instagram bukan realita utuh, melainkan highlight terbaik dari hidup seseorang. Tidak ada yang upload momen gagal, hari buruk, atau masalah pribadi secara detail.
Akhirnya, kita hanya melihat bagian indahnya saja. Dari situlah ilusi mulai terbentuk, seolah-olah hidup orang lain selalu lebih baik.
Media Sosial, Data, dan Dampaknya ke Mental
Di Kalimantan Timur, fenomena ini bukan sekadar asumsi. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) BPS Kaltim tahun 2024, lebih dari 80% masyarakat di kota besar seperti Samarinda, Balikpapan, dan Kutai Kartanegara aktif menggunakan media sosial. Bahkan, aktivitas ini jadi salah satu alasan utama orang mengakses internet.
Artinya, setiap hari kita disuguhi “parade kebahagiaan” orang lain. Mulai dari pencapaian karier, gaya hidup, sampai hubungan asmara yang terlihat sempurna. Masalahnya, paparan ini tidak datang tanpa dampak.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa Kalimantan Timur menempati peringkat kedua nasional dalam prevalensi depresi. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 50% remaja di wilayah ini terindikasi mengalami masalah kesehatan mental.
Ini jadi ironi. Di tengah akses informasi yang luas dan teknologi canggih, justru banyak orang merasa kurang, tidak cukup, dan tertinggal. Secara psikologis, kondisi ini bisa dijelaskan melalui Social Comparison Theory yang diperkenalkan oleh Leon Festinger. Teori ini menyebutkan bahwa manusia secara alami suka membandingkan diri dengan orang lain untuk menilai diri sendiri.
Masalahnya, di media sosial kita cenderung melakukan upward comparison, membandingkan diri dengan orang yang terlihat lebih sukses, lebih kaya, atau lebih bahagia. Dari sinilah muncul rasa insecure, cemas, bahkan rendah diri.
Belum lagi fenomena FoMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut ketinggalan tren atau momen. Kita jadi merasa harus selalu update, harus ikut, harus terlihat “hidupnya seru”, padahal belum tentu itu yang kita butuhkan.
Cara Bijak Menghadapi Wang Sinawang di Kehidupan Sehari-hari
Kalau dibiarkan, jebakan Wang Sinawang versi digital ini bisa terus menguras energi mental kita. Tapi kabar baiknya, ada beberapa cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk keluar dari lingkaran ini.
Pertama, coba mulai detoks media sosial secara berkala. Nggak harus langsung berhenti total, tapi cukup dengan mengurangi waktu scroll atau unfollow akun yang bikin kamu merasa “kurang”. Pilih konten yang memang memberi inspirasi, bukan tekanan.
Kedua, biasakan menulis jurnal rasa syukur. Kedengarannya klise, tapi efeknya nyata. Dengan menulis hal-hal kecil yang kita syukuri setiap hari, seperti secangkir kopi enak atau perjalanan lancar tanpa macet, kita belajar fokus pada apa yang kita punya, bukan yang kita tidak punya.
Ketiga, ubah cara pandang terhadap orang lain. Alih-alih iri, coba lihat sebagai sumber inspirasi. Misalnya, melihat kerja keras pedagang di pasar atau kesabaran seseorang dalam menghadapi masalah bisa jadi pelajaran hidup yang berharga.
Keempat, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional jika sudah merasa kewalahan. Saat ini, akses layanan kesehatan mental sudah lebih terbuka, termasuk melalui aplikasi seperti Sijiwa yang membantu skrining kondisi psikologis secara dini.
Yang paling penting, ingat bahwa semua orang punya perjuangannya masing-masing. Apa yang kamu lihat di layar hanyalah sebagian kecil dari realita mereka.
Saatnya Berhenti Membandingkan dan Mulai Menikmati Hidup Sendiri
Pada akhirnya, Wang Sinawang mengajarkan kita satu hal sederhana yakni jangan mudah tertipu oleh apa yang terlihat. Ketika kita terus membandingkan “behind the scenes” hidup kita dengan “highlight” hidup orang lain, kita akan selalu merasa kalah. Padahal, setiap orang punya cerita yang berbeda, jalan yang berbeda, dan waktu yang berbeda.
Lucunya, orang yang kamu kagumi di media sosial mungkin saja sedang melihat hidupmu dan berpikir hal yang sama, bahwa hidupmu lebih enak. Jadi, daripada sibuk memandangi rumput tetangga, kenapa tidak mulai merawat rumput di halaman sendiri?
Kebahagiaan sejati bukan tentang siapa yang paling terlihat sukses, tapi tentang siapa yang paling bisa menikmati hidupnya sendiri. Mulai dari hal kecil, sederhana, dan nyata.
Karena pada akhirnya, hidup bukan soal terlihat sempurna, tapi soal merasa cukup. Sekarang pertanyaannya “Kamu masih mau jadi penonton di hidup orang lain, atau mulai jadi pemeran utama di hidupmu sendiri?”
Tag: BudayaOpini