Alasan Peredaran Narkoba di Kalimantan Timur Tidak Berhenti

Pemusnahan barang bukti sabu disaksikan tersangka, Rabu (10/3/2021) di BNNP Kalimantan Timur (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – BNN Provinsi Kalimantan Timur dan jajaran BNN kota membongkar 7 jaringan pengedar narkoba sepanjang tahun ini. Termasuk yang dikendalikan oleh Napi di Lapas. Peredaran barang haram itu masih tinggi dan tidak berhenti lantaran masih adanya pengguna narkoba.

Peredaran narkoba di masa pandemi COVID-19 memang tidak surut hampir dua tahun terakhir ini. Pengedar justru melakukan beragam cara berbisnis barang haram itu.

“Meski pandemi, tidak sedikit pun melemahkan BNNP Kalimantan Timur memberantas peredaran narkoba,” kata Kepala BNN Provinsi Kalimantan Timur Brigjen Pol Wisnu Andayana, di kantornya Jalan Rapak Indah Samarinda, Rabu (29/12).

Pengungkapan kasus narkoba oleh BNNP Kaltim dan jajaran, memang masuk di berbagai pintu masuk Kalimantan Timur. Barang haram itu juga dominan masih dikirim dari Malaysia dan masuk melalui utara Kalimantan.

Dari penyelidikan, pengedar narkoba menghindari jalur perairan resmi. Seperti yang ada di Tarakan, Kalimantan Utara.

“Tarakan itu juga banyak pintu masuk barang haram itu. Di antaranya, lokasi tambak di Tarakan jadi tempat persinggahan sementara pengiriman narkoba,” kata Kabid Pemberantasan BNN Provinsi Kalimantan Timur Kombes Pol Djoko Purnomo di kesempatan yang sama.

Djoko menerangkan, narkoba yang masuk melalui jalur tidak resmi sulit dideteksi. “Kecuali masyarakat tahu, memberi informasi ke kami. Atau pun kita sudah mendalami informasi itu, baru kita tahu bahwa akan ada barang (narkoba) masuk sekian banyak dan arahnya kemana. Itulah (kasus) yang terungkap,” ujar Djoko.

Tahun ini, BNNP Kaltim dan jajaran berhasil membongkar 7 jaringan peredaran narkoba. Meski barang bukti seperti sabu hanya sekitar 7 kilogram.

BNNP Kaltim Penjarakan 54 Orang Sepanjang 2021

“Barang bukti sedikit, berarti ada barang (narkoba) yang masuk. Tapi, jaringan ini menjadi pemasok cukup banyak ke Kaltim. Kalau kita biarka dalam setahun mungkin dia (bandar) akan masukkan (narkoba) berkilo-kilogram,” terang Djoko.

“Tapi, dengan kita ambil (tangkap) satu jaringan misalnya, kan proses peradilan dari 6 bulan sampai 1 tahun. Mereka (pengedar) tidak akan bisa bekerja sampai bawah karena kita putus setelah ambil bandarnya. Kalau yang di bawah (pengedar) kita ambil, mereka masih tetap bisa jalan,” jelas Djoko.

Dijelaskan, mengenai jaringan Lapas misalnya, mereka pelaku kasus narkoba seperti yang berada di Lapas adalah mantan pemain-pemain besar yang ditangkap.

“Sementara dia di Lapas, punya akses keluar dan banyak memanfaatkan itu. Penjualnya ada di sekitar kita. Tidak gampang kita ungkap karena tidak mungkin terus memantau setiap hari. Kita harus dapatkan dulu info dari luar, untuk bisa dapat (pengendali) di dalam Lapas,” ungkap Djoko.

Djoko tidak menampik, bagi bandar dan pengedar, bisnis narkoba memang menggiurkan lantaran tingginya permintaan (demand) dan penggunanya.

“Kalau misal kita penjual, peminat banyak, pasti kita berusaha memasukkan. Karena keuntungan cukup besar di situ. Kok tidak bisa berhenti? Ya itu tadi selagi pemakai banyak, penjual tidak berhenti,” jelas Djoko.

Bahkan, di Samarinda misalnya, seiring dengan dugaan tingginya angka pengguna narkoba, pembeli malah mendapatkan tawas. Pemakai pun tidak lagi memerdulikan keaslian sabu yang dibeli.

“Pernah di Samarinda, sabu diganti tawas. Jadi itu bukan sabu. Itu saking banyaknya pemakai,” demikian Djoko.

Penulis : Saud Rosadi | Editor : Saud Rosadi

Tag: