Anggi Mentari, Mencoba Menyelaraskan Seni dan Perencanaan Wilayah-Kota

Anggi Mentari Daniswari. (Foto: Koleksi Pribadi)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Sejak usia empat tahun Anggi Mentari Daniswari sudah aktif berkesenian. Segala macam seni, mulai fesyen, tari, puisi dan teater diikutinya.

Di usia itu, dara kelahiran Samarinda, 12 Februari 2001 ini, beberapa kali juara fesyen anak-anak. Umur tujuh tahun, menjadi penari termuda pada gelar tari kolosal pembukaan PON VII/2008 di Samarinda yang didukung 1.000 penari itu.

“Saya masih ingat ketika menari melintasi lapangan bola Stadion Palaran dengan membawa  bibit pohon. Disaksikan puluhan ribu penonton. Momen itu sangat berkesan dalam hidup saya,” ungkap putri ketiga dari pasangan H. Hamdani dan Hj. Deasy Selvia.

Selanjutnya, seraya konsen menuntut ilmu di SD 007, SMPN 1 dan SMAN 10 Samarinda, Anggi, sapaan akrabnya, tetap menggeluti dunia teater dan baca puisi. Pada tahun 2017 dia lolos seleksi Kemdikbudristek menjadi peserta ‘Belajar Bersama Maestro’ di Bandung.

Sebelumnya tahun 2007 pentas dramatisasi puisi di Taman Mini Indonesia Indah. 2012 bersama DKD Kaltim terlibat pantas ‘Para Roh’ di Denpasar, Bali. Dan 2018 menjadi pemain pada pentas ‘Perkasa’ di Surabaya. Di tahun yang sama, mewakili Kaltim pada FLS2N tingkat nasional untuk baca puisi.

Namun ternyata pendidikan Anggi selepas SMA, tidak linier dengan aktifitas seni yang digelutinya kecil. Anggi malah lulus tanpa test di prodi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Malang.

“Alhamdulillah, saya diterima di prodi PWK Fakultas Teknik Universitas Brawijaya. Ketika kuliah dorongan berkesenian tetap ada. Lantaran  padatnya jadwal kuliah, saya cuma menyalurkannya lewat menulis puisi,” ungkap Anggi yang menyelesaikan kuliah dalam tempo 3 tahun 8 bulan.

Meski lulus beberapa bulan lalu, namun Anggi diwisuda pada hari Sabtu (30 September 2023) tadi.

“Terima kasih kepada mamah, papah, kakak-kakak, adik-adik yang sudah mendukung lahir bathin hingga berhasil meraih Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota (S.P.W.K),” ucapnya kepada niaga.asia.

Kebahagiannya bertambah karena sejak dinyatakan lulus, Anggi direkrut sebuah perusahaan perencanaan terkemuka di Kaltim.

Meski begitu, Anggi tetaplah sosok yang tak melupakan kesenian yang telah menempa karakternya.

“Saya tidak bisa melupakan kesenian yang telah menempa kepribadian saya. Sekarang saya mencoba menyelaraskan seni dan ilmu perencanaan wilayah dan kota dalam perkerjaan saya,” imbuh penerima bea siswa Kaltim Tuntas ini.

Anggi yakin, dalam mengaflikasikan ilmunya pasti banyak beririsan dengan seni. “Seni membuat pekerjaan saya dalam perencanaan wilayah dan kota punya sentuhan estetika dan pastinya punya ‘roh’,” pungkas Anggi.

Penulis: Intoniswan  | Editor: Intoniswan

Tag: