Beras di Samarinda Makin Mahal, Pemkot Mau Gelontorkan 84 Ton Beras Lewat Operasi Pasar

Abdul Halim salah satu pedagang beras di Pasar Induk Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur (niaga.asia/Annisa Dwi Putri)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Harga beras di kota Samarinda naik signifikan. Kenaikan itu imbas dari musim kemarau kering tahun ini di sejumlah daerah. Pedagang beras pun tidak berani menambah stok beras mereka.

Abdul Halim, 39 tahun, salah satu distributor beras di Pasar Induk Segiri di Samarinda bilang, kenaikan harga beras berlangsung dalam kurun waktu satu bulan terakhir ini. Sejauh ini, beras yang dia jual, dipasok dari sejumlah daerah di Sulawesi.

“Beras mulai naik sejak pertengahan Agustus kemarin sampai September 2023 ini. Naiknya juga tinggi sekali,” kata Abdul Halim.

Kenaikan harga beras itu menurut dia di antaranya disebabkan tingginya permintaan beras di berbagai daerah lainnya. Sebut saja di antaranya dari Surabaya, Medan, Jakarta, yang juga mendapat pasokan dari Sulawesi.

Pun demikian dengan tingginya harga gabah. Belum lagi kemarau kering tahun ini, berpotensi mengakibatkan petani gagal panen.

Sebagai contoh, Abdul Halim mendapatkan pasokan beras Sulawesi Rp 12.500 per Kilogram dari sebelumnya Rp 12.500 per Kilogram. Sedangkan beras kualitas premium di harga Rp 14.000-Rp 15.000 per Kilogram.

“Beras Bulog juga kemarin sempat kita jual Rp 10.000. Sekarang tidak bisa, harus dijual Rp 12.000,” ujar Abdul Halim.

Selama puluhan tahun berjualan beras, Abdul mengaku jika kenaikan beras tahun ini sangat berdampak bagi para pedagang. Penjualan semakin sepi, sebab pelanggan terkejut dengan lonjakan harga beras.

“Maka dari itu saya tidak berani stok beras, takutnya percuma. Belum lagi pelanggan mengeluh, ya mau gimana barang juga naik,” terang Abdul Halim.

Stok beras Bulog (Foto: Kementerian BUMN)

Kepala Dinas Perdagangan Kota Samarinda Marnabas Patiroy mengatakan, gejolak harga beras ini terjadi di seluruh wilayah Indonesia, dan merupakan dampak fenomena El Nino yang menyertai kemarau tahun ini.

El Nino sendiri merupakan kenaikan suhu permukaan laut di bagian timur Samudra Pasifik, sehingga hal ini tentunya dapat mengancam produksi padi. Akibatnya, tidak sedikit petani gagal panen lantaran sawahnya dilanda kekeringan.

“Ini juga dampak dari El Nino yang menyebabkan harga naik,” kata Marnabas.

Marnabas bilang dia telah melaporkan persoalan tingginya harga beras ke Wali Kota Andi Harun, dan juga berkoordinasi antarpihak untuk menggelar operasi pasar.

Terkait rencana itu, Dinas Perdagangan telah menyiapkan 84 ton beras, untuk didistribusikan ke 10 kecamatan. Harga jualnya pun mengikuti harga normal Rp 8.600 per Kilogram.

“Kami tetap menjual di harga normal, karena ongkos kirimnya ditanggung pemerintah kota. Untuk beras ada di ukuran 5 kilogram yang disediakan,” ujar Marnabas.

Dijelaskan Marnabas, sasaran pendistribusian dalam operasi pasar juga dikhususkan untuk masyarakat ekonomi menengah ke bawah, dengan sistem setiap kecamatan dan kelurahan melakukan pendataan terlebih dahulu, mana saja warga yang berhak mendapatkan beras saat pelaksanaan operasi pasar nanti.

“Mereka kecamatan dan kelurahan itu yang tahu, mana saja warganya yang diprioritaskan,” demikian Marnabas.

Penulis : Annisa Dwi Putri | Editor : Saud Rosadi

Tag: