Cerita Petugas Makam Jenazah Covid-19 di Nunukan, Peti Jenazah Tak Muat di Lubang Makam

Tim pemakaman jenazah kasus Covid-19 di Nunukan minim penerangan lampu saat memakamkan malam hari. (Foto : istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Tidak banyak masyarakat ataupun petugas pemerintah, yang bersedia ditugaskan sebagai bagian dari tim pemakaman jenazah positif Covid-19. Rasa ketakutan akan tertular penyakit akibat virus SARS-CoV-2 itu sangat manusiawi.

Kenyataan ini sempat pula dirasakan oleh Ketua Tim Pemakaman Jenazah Covid-19 Nunukan, Hasanuddin. Dia mengatakan, istri dan anaknya sempat tidak mengizinkan saat pertama kali dia menjalankan tugas hukum Fardhu Kifayah bagi umat muslim ini.

“Rasa was-was pasti adalah. Terutama dari keluarga sendiri. Tapi saya berusaha meyakinkan mereka, bahwa semua ini akan baik-baik saja,” kata Hasanuddin, Senin (1/3).

Hasanuddin yang juga akrab dipanggil Hasan, adalah pegawai Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, yang kini menjabat sebagai Kepala Sub Bagian Kedaruratan.

Bersama 9 orang lainnya yang sebagian dari petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Nunukan, Hasan menjadi tim relawan pemakanan jenazah jenazah, sejak pemakaman pasien pertama berstatus probable Covid-19, tahun 2020.

“Saya lupa bulan berapa pertama memakamkan jenazah. Seingat saya sudah ada 17 kasus pasien meninggal,” ujar Hasan.

Hari pertama menjalankan tugas, istri dan anaknya, sempat meminta Hasan menjaga jarak saat berada di rumah. Bahkan, tempat tidur pun dipisahkan. Diasingkan dari keluarga tidak membuat Hasan berhenti memakamkan jenazah.

Bagi dia, siapa lagi kalau bukan tim relawan yang memakamkan jenazah. Pemakaman adalah fardhu kifayah yang diwajibkan oleh Allah. Tanpa memandang apakah dilakukan umat Islam, atau sebagian dari mereka.

“Sebagian agama mengharuskan jenazah dimakamkan. Kalau tidak dimakamkan, berdosalah kita karena melanggar hukum agama,” jelasnya.

Dikatakan Hasan, tim pemakaman bekerja setelah rumah sakit menyelesaikan proses pemulasaran dan packing jenazah dalam peti jenazah. Selain itu, ada lagi tim khusus penggali kubur 3 orang, diambil dari kalangan masyarakat.

Menurut Hasan, satu hambatan dalam pemakaman adalah, apabila pasien meninggal sore atau siang hari. Biasanya, pasien tersebut dimakamkan pada malam hari, hanya berbekal cahaya lampu senter atau lampu kendaraan.

“Kami sudah sampaikan ke pemerintah, perlu lampu untuk pemakaman malam hari. Apalagi lokasi pemakaman cukup jauh dari masyarakat,” sebutnya.

Pengalaman terberat selama memakamkan jenazah, adalah ketika dalam satu hari memakamkan dua orang pasien meninggal. Tim relawan bekerja dari malam pukul 20.00 hingga pukul 01.00 WITA dini hari.

“Pernah satu saat tim relawan menghabiskan waktu sekitar 2 jam di lokasi pemakaman, karena kesulitan memasukan peti mati. Luas liang lahat yang digali teryata tidak cukup memasukan peti jenazah,” terangnya.

“Kami tidak mengerti entah kenapa ya, ada pemakaian lubang kuburnya tidak cukup memuat peti mati. Padahal berulang-ulang kami ukur, terpaksa digali berulang-ulang lagi,” tuturnya.

Hasan menyebutkan, petugas pemakaian jenazah dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD) lengkap. Tiap mengakhiri tugas, disemprotkan disinfektan dan pelepasan baju Hazmat di tempat khusus.

Dengan APD lengkap dan prosedur ketat, petugas pemakaman diyakini tidak akan tertular Covid-19. Risiko tertular Covid-19 jauh lebih berbahaya orang-orang yang keluar rumah, tanpa memperhatikan protokol kesehatan.

“Tim pemakaman tidak satupun terpapar Covid-19. Saya lebih takut lihat orang keluar rumah tanpa masker dan berkumpul tanpa jaga jarak,” demikian Hasan. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *