Ini Bukti Pesawat Bisa Mendarat dan Terbang Malam Hari di Bandara APT Pranoto Samarinda

Gambar video memperlihatkan pesawat Batik Air nomor penerbangan ID-8673 saat mulai tinggal landas di Bandara APT Pranoto Samarinda, Jumat 14 Juni 2024 malam. Terlihat sisi udara atau runway sudah lengkap dan memiliki lampu (istimewa)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA — Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) bisa digunakan maskapai untuk penerbangan malam hari. Setidaknya itu yang terlihat kesekian kalinya di bandara yang berada di utara kota Samarinda itu, Jumat 14 Juni 2024 malam.

Penerbangan malam hari sejatinya bukan hal baru di Bandara APT Pranoto. Sebelumnya, juga digunakan untuk pendaratan dan penerbangan malam hari. Seperti saat lebaran Idulfitri, maupun penerbangan reguler.

Dari data FR24, Batik Air dari Jakarta (CGK) misalnya. Pada Jumat malam itu, mendarat mulus di Bandara APT Pranoto pukul 20.05 Wita, dari jadwal 16.50 Wita. Diketahui sebelumnya Batik Air nomor penerbangan ID8672 dengan registrasi PK-LUJ mengalami keterlambatan penerbangan dari Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng.

Batik Air itu kembali terbang tujuan ke Cengkareng pukul 20.47 Wita dari jadwal seharusnya 18.40 Wita.

Tayangam video memperlihatkan Batik Air ID-8673 saat masih berada di apron dan proses menuju taxiway atau landasan penghubung apron dan runway di Bandara APT Pranoto Samarinda, Jumat 14 Juni 2024 (istimewa)

“Penerbangan malam di Bandara APT Pranoto ini menjawab keraguan masyarakat, bisa tidaknya Bandara APT Pranoto ini melayani penerbangan malam. Itu dibuktikan dengan penerbangan malam tadi,” kata Maeka Rindra Hariyanto, Kepala BLU UPBU Kelas I APT Pranoto Samarinda dikonfirmasi niaga.asia, Sabtu 15 Juni 2024.

Maeka bilang, untuk meningkatkan kenyamanan penerbangan malam hari, maupun di tengah cuaca yang kurang baik, memang diperlukan Instrument Landing System (ILS) dan Precision Approach Lighting System (PALS), berupa deretan lampu memanjang di ujung landasan.

“Kalau ILS itu bagian dari kewenangan AirNav Indonesia. Sedangkan PALS itu disediakan dari kami. Tapi keduanya itu satu kesatuan. Kalau tidak memungkinkan PALS, bisa dengan MALS (Medium Approach Lighting System),” ujar Maeka Rindra Hariyanto.

Baca juga: Bandara Samarinda Siap Kapan Saja Beroperasi Malam Hari

Dijelaskan Maeka, UPBU Kelas I APT Pranoto sendiri telah mengajukan pemasangan ILS ke AirNav Indonesia.

“Sudah lama kita ajukan ILS itu. Sejauh ini, kami masih menunggu informasi terbaru soal ILS. Lebih jelasnya silakan ditanyakan ke AirNav,” terang Maeka Rindra Hariyanto.

“Karena memang PALS ini juga memerlukan lahan cukup panjang. Kalau tidak mencukupi PALS, bisa menggunakan MALS. Kalau dari kami, sementara ini terkendala anggaran untuk pembangunan PALS ini,” tambah Maeka Rindra Hariyanto.

Instrument Landing System (ILS) (istimewa/net)

Masih disampaikan Maeka, dengan pelayanan penerbangan malam hari yang sudah berlangsung di Bandara APT Pranoto, menjawab keraguan masyarakat berkaitan fasilitas sisi udara yang dimiliki Bandara APT Pranoto.

“Kita bisa melayani penerbangan malam. Tapi untuk lebih safety, ada ILS dan PALS. ILS ini kan instrumen pendaratan yang sangat membantu pilot,” demikian Maeka Rindra Hariyanto.

Penulis: Saud Rosadi | Editor : Saud Rosadi

Tag: