Kapasitas Terpasang Pembangkit Listrik  Tahun 2022 Sebesar 81,2 Gigawatt

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam pernyataan pers terkait Capaian Kinerja Tahun 2022 dan Program Kerja Kementerian ESDM Tahun 2023 di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (30/1). (Foto Kementerian ESDM)

JAKARTA.NIAGA.ASIA – Pemerintah terus mendorong peningkatan kapasitas pembangkit untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Pada tahun 2022, kapasitas terpasang pembangkit listrik sebesar 81,2 Gigawatt (GW), di mana 12,5 GW di antaranya berasal dari pembangkit Energi Baru dan Terbarukan (EBT).

“Pada tahun 2023 kapasitas terpasang pembangkit listrik ditargetkan sebesar 85,1 GW,” ungkap  Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif dalam pernyataan pers terkait Capaian Kinerja Tahun 2022 dan Program Kerja Kementerian ESDM Tahun 2023 di Kantor Kementerian ESDM Jakarta, Senin (30/1).

“Sementara realisasi konsumsi listrik per kapita di tahun 2022 sebesar 1.173 kWh/kapita meningkat 50kWh/kapita dari 2021,” kata Arifin.

Pada tahun 2022 rasio elektrifikasi Indonesia telah mencapai 99,63%. Sementara rasio desa berlistrik telah mencapai 99,76%. Ditargetkan di tahun 2023, seluruh rumah tangga di wilayah Indonesia mendapatkan akses listrik.

“Rasio elektrifikasi kita mencapai 99,63%, tetapi kita lihat kita masih perlu meningkatkan program elektrifikasi agar seluruh wilayah Indonesia bisa mendapatkan akses listrik. Di wilayah timur akan menjadi fokus ke depan dan akan kita dorong, agar listrik dapat sampai ke masyarakat di wilayah timur yang terpencil. Ini harus kita upayakan,” tandas Arifin.

EBTKE

Dari subsektor Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), kapasitas terpasang pembangkit listrik yang berasal dari pembangkit EBT adalah 12,5 GW. Sementara bauran energi primer pembangkit listrik sebesar 14,11% berasal dari EBT.

Terkait penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor energi, Indonesia terus melakukan langkah konkret dalam mitigasi iklim, termasuk pengurangan emisi GRK dengan peningkatan target menjadi 31,89% dengan kemampuan sendiri dan 43,20% dengan dukungan internasional.

Pada tahun 2022, capaian penurunan emisi CO2 sebesar 91,5 juta ton. Hal tersebut dicapai melalui aksi mitigasi implementasi EBT, efisiensi energi, dan penerapan bahan bakar rendah karbon, penggunaan teknologi pembangkit bersih dan kegiatan lain.

“Selain itu, intensitas penurunan emisi CO2 kita mencapai 0,335 ton,” tambahnya.

Pemerintah juga terus melaksanakan kebijakan mandatori biodiesel untuk mengurangi impor dan menghemat devisa. Pemanfaatan biodiesel untuk domestik pada tahun 2022 sebesar 10,45 juta Kiloliter (KL) dan penghematan devisa sebesar Rp122,65 triliun atau USD8,34 miliar.

Sumber: Biro KLIK Kementerian ESDM | Editor: Intoniswan

Tag: