Percepat Penurunan Stunting, Dinkes Nunukan Pantau Pola Hidup Keluarga

Kepala Dinas Kesehatan Nunukan Hj Miskia. (Foto : Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Percepatan penurunan angka stunting di Kabupaten Nunukan dilakukan Dinas Kesehatan dengan cara memantau pola hidup keluarga, karena menemukan di keluarga PNS yang secara ekonomi mapan, tapi anaknya stunting,  selain itu juga memantau pertumbuhan anak mulai dari usia remaja hingga calon pengantin dan melahirkan balita.

“Kenapa pemantauan dari usia remaja, karena di usia itulah anak-anak mengalami fase subur dan pertumbuhan sebelum menuju pernikahan,” kata Kepala Dinas Kesehatan Nunukan Hj. Miskia pada Niaga.Asia, Rabu (06/09/2023).

Menurut Miskia, angka prevalensi stunting di Kabupaten Nunukan per 23 Oktober 2022 sebesar 16,6 persen dengan jumlah balita yang telah diukur tinggi dan berat badannya sebanyak 12.984 dari 18.919 balita.

Salah satu penyebab masih tingginya angka stunting dikarenakan banyaknya warga pendatang yang ketika bermukim di wilayah Nunukan tidak terpantau kesehatannya dan keberadaanya juga tidak dilaporkan.

“Ketika mereka hamil atau melahirkan datang ke Puskesmas, baru kita mengetahui ada persoalan pada calon balita dan ibunya,” sebutnya.

Miskia menjelaskan, sebagian besar warga pendatang tersebut bermukim di Kecamatan Nunukan Selatan, bekerja sebagai pengikat rumput laut, kesibukan dalam bekerja menyebabkan pola hidup dan kesehatan kandungan kurang diperhatikan.

Untuk mengatasi balita tumbuh stunting, Dinkes Nunukan meminta masing-masing ketua RT melaporkan keberadaan ibu hamil baik penduduk tempatan ataupun warga pendatang agar dapat dilakukukan pemantauan.

“Orang stunting tidak mutlak memiliki penyakit, biasanya akibat kesalahan pola hidup pada ibu hamil dan balita saja,” bebernya.

Miskia menuturkan, penyebab stunting tidak semata-mata dipengaruhi kemiskinan, beberapa anak  standing malah hidup di keluarga berkecukupan karena berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang secara ekonomi mapan.

Pada kasus ini, Dinkes memprediksi pola hidup yang diterapkan kurang memperhatikan asupan gizi makanan dan minuman ketika sebelum hamil hingga memasuki fase hamil dan melahirkan balita.

“Stunting tidak identik dengan kemiskinan, banyak PNS di Nunukan stunting. Artinya pola hidup menentukan pertumbuhan tubuh seseorang,” terangnya.

Menurut Miskia lagi, pemantauan stunting mulai dari remaja hingga melahirkan bertujuan untuk membentuk pertumbuhan tubuh seseorang agar ketika melahirkan mendapatkan balita sehat dengan tinggi dan berat badan normal.

Kemudian, walaupun nantinya ditemukan balita sudah terlanjur stunting, tim kesehatan masih bisa melakukan intervensi abay pada balita hingga di usia 2 tahun dengan memberikan asupan makan dan minum bergizi.

“Usia 2 tahun itu masa-masa suplai gizi yang paling bagus untuk pertumbuhan balita,” terangnya.

Penulis: Budi Anshori | Editor: Intoniswan

Tag: