‘Senja Merah’, Novel Berlatar Sejarah Penjajahan Jepang di Kaltim

Novel ‘Senja Merah’ karya Herman  A Salam.

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Meski mempunyai ketebalan 390 halaman, namun novel ‘Senja Merah’ karya Herman A Salam tidak membuat bosan pembacanya.

Alur cerita novel yang diterbitkan tahun 2017 ini begitu cair dan mengalir lancar, walaupun sejatinya novel ini berlatar sejarah penjajahan Jepang di Samarinda dan Kaltim.

Novelis peraih Anugerah Kebudayaan Bidang Sastra Kaltim 2022 ini pintar membungkusnya dengan petualangan cinta  sang tokoh utama, Hendra dengan sejumlah wanita-wanita cantik. ‘Senja Merah’ yang berlatar Kota Samarinda ini ditulis Herman  A Salam mengkombinasikan genre roman dan thriller.

Menurut Herman A Salam, novelnya ini mencoba mengangkat kisah cinta yang absurd, petualangan cinta tokoh ditampilkan bisa jadi  merupakan gambaran warna warni yang tak lagi jelas lantaran abrasi moderanisasi.

“Ada 39 episode atau bagian dalam novel saya ini. Di antaranya, perebutan harta karun kapal Jepang yang tenggelam di dasar laut Selat Makassar. Hendra yang menjadi ‘hero’ novel ini bertualang menghadapi musuh-musuhnya yang ingin menguasai harta karun itu,’ ungkap penulis kelahiran Tering,  Kutai Barat, 9 Juni 1965.

Kepada niaga.asia, dia berharap novel ini mampu lebih mengenalkan warna lokal dengan sentuhan ornamen dekoratif dan artistik dalam bahasa tulisan.

“Mudahan ‘Senja Merah’ sudah cukup memenuhi kerinduan kita pada sebuah kisah fiksi yang menghibur,” ucap penulis novel histografi ‘Senopati Awang Long’ dan ‘Sambaliung Membara’ yang telah memenangkan Sayembara Penulisan Buku Kemdikbud tahun 2000 dan 2005.

Penulis: Hamdani | Editor: Intoniswan

Tag: