Puskesmas Bontang Utara I Melakukan Inovasi ‘Drumpicon’

Sosialisasi Program Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam rangka Open Defecation Free (ODF) atau Stop BAB Sembarangan (SBS). (Foto Dahlia/Niaga.Asia)

BONTANG.NIAGA.ASIA – Puskesmas Bontang Utara I melakukan inovasi baru yakni Drumpicon (Drum Ipal Consentrat) alias septic tank yang menggunakan drum. Inovasi ini bagian dari Program Teknologi Tepat Guna (TTG) dalam rangka Open Defecation Free (ODF) atau Stop BAB Sembarangan (SBS).

Kepala Puskesmas Bontang Utara I, dr I Wayan Santika mengatakan, inovasi ini diusung lantaran angka warga Bontang yang Buang Air Besar (BAB) langsung ke laut masih tinggi. Padahal jenis jamban cemplung seperti itu terkategori tidak sehat dan dapat mencemari lingkungan sekitar.

“Program ini juga mendukung PHBS (Pola Hidup Bersih dan Sehat), mendukung terwujudnya kota yang sehat, serta bisa menekan kasus stunting,” ucap Wayan saat dikonfirmasi, Jumat (4/8/2023).

Inovasi ini rencananya dilakukan secara bertahap dengan menyasar seluruh kelurahan di Bontang. Namun saat ini, yang masuk tahap prioritas yakni di Kelurahan Berbas Pantai, Kelurahan Tanjung Laut, dan Kelurahan Gunung Elai.

“Target kami (puskesmas) dalam sebulan setidaknya satu pemasangan. Di lapangan itu yang menjadi kendala keterlambatan pemasangan karena kita harus menunggu air surut” bebernya.

Dalam waktu dekat ini akan di pasang 21 unit drumpicon bantuan dari dua perusahaan yang disebar ke kelurahan yakni Berbas Pantai satu unit, Gunung Elai 18 unit dan dua unit di Bontang Kuala.

“Kebetulan sudah ada yang kami pasang di Tanjung Limau dan Bontang Kuala namun hingga 4 bulan berjalan belum ada keluhan terkait bau atau yang lainnya. Karena kita kan butuh pengembangan untuk itu kita terus berinovasi untuk pengembangannya,” ujarnya.

Sementara itu, Lurah Gunung Elai, Sulistyo mengatakan dari data sebanyak 231 warganya yang masih menggunakan jamban cemplung. Katanya, di anggaran perubahan bakal dialokasikan untuk pemasangan drumpicon.

“Hanya saja khawatir 231 ini tidak selesai tepat waktu karena pengerjaannya kemungkinan Oktober. Ditambah lagi pemasangan pasti menunggu air surut. Pihaknya mengusulkan untuk pengerjaannya menggunakan swakelola seperti halnya rantang kasih,” jelasnya.

Senada, Lurah Berbas Pantai, Supriadi menyebutkan ada 341 warga yang masih menggunakan jamban cemplung. “Yang dikhawatirkan adalah harga peralatan takutnya saat ramai yang butuh drum akhirnya harganya dinaikkan,” ucapnya.

Penulis : Kontributor Niaga.Asia, Dahlia | Editor: Intoniswan | Advetorial

Tag: