Dawari menunjukkan kebocoran di atap pondok yang dia tinggali bekas kandang ayam. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Kondisi Dawari, eks prajurit TNI AU di Surabaya, yang kini tercatat sebagai warga Samarinda, Kalimantan Timur ini, begitu memprihatinkan. Dua pondok eks kandang ayam, jadi tempat tinggalnya sehari-hari dalam 17 tahun terakhir.

Nikmat sehat bersama istrinya, Mardiana (54), begitu disyukurinya. Meski urusan makan, dia terkadang hanya bisa menahan lapar. Tak segan, dia berharap iba tetangganya.

Niaga Asia mencoba menelusuri rumah tinggal Dawari, berjarak 10 kilometer dari pusat kota Samarinda, masuk ke Jalan Rimbawan Dalam, di poros Jalan Samarinda – Bontang. Cuaca terik di atas kepala, tidak menyurutkan niatan untuk bertemu Dawari.

Jalan ke pondok tinggal Dawari, tidak begitu mulus. Meski sempat melalui jalan cor, namun dominan melalui jalan bebatuan. Ada beberapa rumah warga, hingga akhirnya Niaga Asia menemukan 2 pondok di berbukitan dikelilingi hutan. Ya, itulah pondok yang dihuni Dawari, dan istrinya, Mardiana.

“Ini (pondok) dulunya bekas kandang ayam,” kata Dawari, mengawali perbincangan bersama Niaga Asia, siang ini.

Masa lalunya, Dawari bukan orang biasa. Dia adalan eks tentara, yang dahulunya bertugas di Surabaya, Jawa Timur. Masih teringat jelas saat itu, meski usianya kini memasuki 77 tahun.

Dawari saat berbincang. Dia pernah bertugas sebagai prajurit TNI AU hingga 1979 dengan pangkat terakhir Letnan Satu (foto : Niaga Asia)

“Saya, dulu tugas operasi DI/TII, dan Permesta tahun 1957 di Manado. Waktu itu ada 140 prajurit, sisa 6 orang termasuk saya. Saya kemudian dibawa ke Jakarta, sebulan saya tidak bisa bertugas lagi,” kenang Dawari.

Dawari pun pulang ke Surabaya, meski dia bertugas di pangkalan udara Abdurahman Saleh. “Kata ibu saya, sudahlah, kamu tidak usah jadi tentara lagi. Ibu saya lapor komandan, ya namanya saja orang dulu kuno,” ungkap Dawari.

Dawari pun berhenti menjadi tentara, sebagai prajurit Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) saat itu. “Dapat pesangon Rp 2 juta, berhenti tahun 1979. Bukan karena saya berbuat kriminal, tapi karena permintaan orangtua saat itu. Jadi, ya saya tidak berhak dapat pensiun,” ucap Dawari.

Menyambung hidup, Dawari pun bekerja menjadi tukang bangunan di Surabaya. Hingga akhirnya, dia memutuskan untuk merantau ke Kalimantan Timur, di Samarinda. “Saya naik kapal laut dari (pelabuhan) Tanjung Perak Surabaya waktu itu. Dan tinggal pertama di Samarinda di Handil Kopi (kecamatan Sambutan),” terangnya lagi.

Tiga tahun kemudian, dia pun mempersunting Mardiana, dan menjadi pasangan hidupnya sampai dengan saat ini. “Jujur saja, dulu, istri saya ini sempat alami tekanan kejiwaan. Tapi itu dulu. Jadi, anak saya laki-laki, diasuh orang lain. Sampai sekarang, kadang saya masih bertemu anak saya,” ungkapnya.

Dawari bersama sang istri Mardiana (foto : Niaga Asia)

Pekerjaan sebagai tukang kebun, dilakoni Dawari bersama istrinya. Hingga akhirnya, pemilik kebun meninggal dunia, dia pun tidak bisa begitu saja meninggalkan kebun yang sudah dia rawat, dan dia jaga sejak lama.

“Jadi, 2 pondok ini, dulunya ya kandang ayam, ada yang mati, ada dijual. Kandang saya tinggali, tidur di sini,” sebut Dawari.

Dawari pun berkenan memperlihatkan bagian dalam pondok tinggalnya, yang dibangun dari papan dan berselimut karpet. Tidak sedikit sampah botol di dalamnya. “Di situ, kadang bocor. Kalau hujan deras, bocor. Saya pindah ke pondok sebelah. Ya bocor juga. Mau bagaimana lagi?” sebut Dawari, sambil menunjuk sejumlah sudut rumahnya, dengan maksud memperlihatkan kebocoran atapnya.

Urusan makan sehari-hari, bagi Dawari, tidak selalu terpenuhi. “Kadang diantar nasi dan ikan sama warga, kalau ada rezekinya. Kadang juga saya beranikan minta makan. Kadang juga tidak makan,” ungkapnya.

Dawari juga tahu, saat ini adalah masa wabah Covid-19. “Corona ya? Iya, katanya ada bantuan sosial pemerintah? Ada BLT (Bantuan Langsung Tunai), tapi nggak ada (terima),” sebut Dawari.

Meski kondisinya kekurangan, dan tinggal di kandang bekas ayam jauh dari layak, Dawari tetap bersyukur dia diberi nikmat sehat, bersama istrinya. “Biarpun begini, Syukur Alhamdulillah saya dan istri saya, selalu sehat. Itu yang terpenting,” kata Dawari menutup perbincangan siang ini tadi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *