Kepala BNN Provinsi Kaltim Brigjen Pol Raja Haryono diwawancarai wartawan. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Provinsi Sumatera Utara menempati posisi teratas terpapar narkoba terbanyak sepanjang 2019 lalu, dari 34 provinsi di Indonesia. Sementara provinsi Kalimantan Timur, berada di urutan ke-23, berada di urutan ke-23, keluar dari 4 besar di tahun 2018 lalu.

“Ini berdasarkan hasil survei LIPI bersama BNN, terhadap masyarakat yang terpapar narkotika di 34 provinsi,” kata Kepala BNN Provinsi Kalimantan Timur Brigjen Pol Raja Haryono, di kantornya Jalan Rapak Indah, Samarinda, Kamis (16/1).

Raja menjelaskan, setelah Provinsi Sumatera Utara, ada provinsi Sumatera Selatan di urutan kedua, provinsi DKI Jakarta di posisi ketiga, serta provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan provinsi Sulawesi Tengah di urutan keempat dan kelima.

“Di provinsi Sumatera Utara itu ada 1,7 juta orang yang pernah pakai dan terpapar narkoba, dengan angka prevalensi 7 persen. Angka prevalensi adalah jumlah terpapar narkotika dibanding jumlah penduduk,” ujar Raja.

“Dalam setahun pakai narkoba, di Sumatera Utara ada 1,5 juta orang, dengan angka prevalensi 6,5 persen. Begitu hasil survei di 2019, yang diumumkan di awal 2020 ini,” tambah Raja.

Bagi BNN Provinsi Kalimantan Timur, hasil bahwa Kaltim tidak lagi di urutan 10 besar terpapar narkoba, merupakan sebuah prestasi. “Di Kaltim, sasaran yang disurvei adalah Samarinda, karena dianggap paling rawan,”terang Raja.

“Kemudian disusul Kukar. Yang disasar, adalah rumah tangga seperti para pekerja, itu jadi pusat penelitian. Kemudian disusul pelajar, dan kemudian ibu rumah tangga. Ada 16.963 yang mengaku pernah pakai narkoba,” sebut Raja.

Dijelaskan Raja, meski sepanjang 2019 lalu, Kaltim sering jadi sasaran tujuan pengiriman dalam jumlah besar, dari Malaysia, melalui jalur Kalimantan Utara, itu tidak serta merta menunjukkan Kaltim memiliki banyak pengguna narkoba. Sebab, tidak sedikit pengiriman sabu ke Kaltim itu, justru akan disebar ke daerah lain bahkan di luar Kaltim.

“Tapi, tidak menutup kemungkinan, Kaltim dari posisi ke-23 ini, kembali naik di posisi teratas. Paling tidak, masyarakat Kaltim saat ini, semakin mengantisipasi. Setidaknya, dimulai dari lingkungan keluarga bahwa narkoba itu benar-benar berbahaya,” demikian Raja. (006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *