Dokter Spesialis Paru RSUD Abdul Rivai, dr Robert Christian Naiborhu. (Foto : istimewa)

TANJUNG REDEB.NIAGA.ASIA – Meskipun angka kasus positif COVID-19 di Berau masih bertambah, namun untuk angka kematian hingga awal pandemi ini merebak belum ada atau nol. Hal ini dikarenakan sejumlah faktor, antara lain kedisiplinan dan usia pasien.

“Faktor penentu kesembuhan yang pertama adalah kedisiplinan pasien. Maksudnya disiplin minum obat yang diberikan, agar imun tubuhnya bisa terjaga dan antibodi terhadap virus ini bisa terbentuk. Contohnya kasus pasien Berau ada yang lama menjalani perawatan bahkan diisolasi sejak awal April 2020 lalu, namun hingga sekarang belum sembuh karena kurang disiplinnya minum obat,” kata Dokter Spesialis Paru RSUD Abdul Rivai, dr Robert Christian Naiborhu, ditemui Selasa (30/6)

Dikatakannya, selain disiplin mengkonsumsi obat, faktor usia juga menjadi penentu cepat tidaknya pasien Corona sembuh. Untuk usia muda, dikatakannya, angka kesembuhan tinggi karena imun tubuh masih bagus. Sedangkan usia lanjut atau di atas 50 tahun lambat sembuh karena pembentukan imun tubuh tidak sebagus usia muda. Belum lagi, kalau ada penyakit bawaan yang diderita.

“Kasus pasien Berau 10 yang dirawat sejak April itu, juga salah satunya karena ada faktor penyakit bawaan yakni asma. Sehingga itu juga menjadi salah satu penyebab kesembuhannya lama,” tambahnya.

Untuk virus corona sendiri, dari kasus positif yang ditanganinya di RSUD Abdul Rivai, dikatakan Robert, memang ada perbedaan antara pasien klaster Gowa dengan klaster perjalanan luar Berau seperti yang dialami Siti Nurhaliza, pasien pertama klaster perjalanan Jogjakarta di Berau yang dinyatakan sembuh. Dijelaskannya, untuk klaster Gowa hampir tidak ada gejala yang dirasakan pasien. Sedangkan klaster perjalanan luar Berau gejalanya terlihat beberapa hari kemudian.

“Masa inkubasinya Corona semula informasinya yaitu 14 hari atau dua minggu, tetapi kenyataannya 15 hari baru kelihatan gejalanya. Untuk mengetahui perkembangan virus ini masih baru, belum tentu sama antara virus di Berau dengan daerah lain. Ada sekitar 30 varian virus corona ini yang membuat para ahli dan peneliti belum bisa menentukan jenis pengobatan yang tepat,” ungkapnya.

Obat yang dipergunakan untuk perawatan pasien COVID-19 juga sampai saat ini belum dapat dipastikan jenisnya. Jadi, untuk pasien di Berau perawatan satu pasien dan lainnya juga berbeda. Untuk yang memiliki gejala berat misalnya ada batuk dan keluhan seputar tenggorokan pengobatan yang diberikan dosis tinggi. Untuk ODP dan PDP diberikan suplemen dan vitamin penunjang untuk pembentukan imun tubuh.

“Yang sudah pasti positif COVID-19 kita berikan perawatan ekstra, berbeda dengan pasien PDP. Untuk pasien positif banyak obat injeksi, vitamin dan suplemen pendukung,” tutupnya. (008)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *