Demi Cita-Cita, Anak PMI di Malaysia Ikuti Ujian Kelas VI di Sebatik

Dari 32 murid Kelas VI  SDN 03 Kecamatan Sebatik Barat,  6 orang diantaranya anak-anak Pekerja Migran Indonesia) di Malaysia. ( (Foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Menelusuri jalan – jalan pintas di sela-sela perkebunan sawit dan pemukiman penduduk adalah cara tercepat bagi anak-anak Pekerja Migran Indonesia (BMI) di Malaysia, untuk sampai ke sekolah di perbatasan Indonesia pulau Sebatik.

Bersekolah di Kecamatan Sebatik, adalah pilihan yang harus dilakukan karena dilokasi tempat orang tuanya bekerja sebagai buruh perkebunan sawit, tidak menyiapkan sarana pendidikan sekolah dasar dan sederajat.

Demi mengejar cita-cita, para pelajar berusia antara 7 sampai 12 tahun ini rela berjalan kaki sejak pagi buta menuju sekolah yang jaraknya berkilo-kilometer. Biasanya mereka menghabiskan waktu sekitar 30 sampai 45 menit tiba di sekolah.

Keberadaan anak-anak PMI di sekolah wilayah perbatasan Sebatik, sering dijumpai di beberapa sekolah, salah satunya di Sekolah Dasar Negeri (SDN) 03 Kecamatan Sebatik Barat, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

SDN 03 Kecamatan Sebatik Barat sendiri memiliki 32 murid kelas VI,  6 orang diantaranya anak-anak PMI, Mereka ini sedang mengikuti ujian sekolah yang mulai dilaksanakan sejak tanggal 5 – 9 April 2021.

Dengan alasan Sebatik Barat “bersih” dari  Covid-19, SDN 03 Sebatik Barat, melaksanakan ujian sekolah dengan cara tatap muka atau luar jaringan (luring). Kebijakan itu diambil sekolah atas permintaan murid dan orang tua murid.

“Kami tawarkan ke anak-anak mau luring atau daring, mereka memilih luring dengan alasan sinyal susah dan lainnya,” kata kepada SDN 03 Sebatik Barat, Wahid pada Niaga Asia, Rabu (07/04).

Keputusan melaksanakan ujian sekolah luring tentunya telah dipikirkan matang-matang  dan telah pula mempertimbangkan syarat yang harus dipenuhi dalam mencegah penularan wabah Covid-19.

Tiap murid yang mengikuti luring wajib menjalani pemeriksaan kesehatan, mencuci tangan dan menjaga jarak selama berada di ruang kelas. Standar protokol kesehatan ini bertujuan menghindari hal-hal tidak diinginkan.

“Tiap kelas hanya berisi 8 atau 10 orang murid, tiap meja diberi jarak cukup jauh dan selama mengikuti ujian harus menjaga jarak,” tutur Wahid.

Anak PMI Dititip di Rumah Warga

Untuk mempermudah dan membantu pendidikan anak-anak PMI, sekolah menitipkan beberapa anak di rumah warga di sekitar sekolah. Cara ini menghindari murid-murid agar tidak sering keluar masuk wilayah perbatasan Indonesia – Malaysia.

Selama mengikuti ujian kelas VI SD, anak PMI tinggal menumpang di rumah warga di Sebatik. (Foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

Apalagi pemerintah Malaysia, sampai saat ini masih menerapkan lockdown, termasuk menutup jalur perlintasan perbatasan, berbeda dengan petugas pengamanan perbatasan Indonesia yang masih memahami situasi pelajar ini.

“Kasihan anak-anak ini kalau sampai tertangkap petugas Malaysia, makanya sementara waktu kami titipkan di rumah penduduk,” terangnya.

Sulitnya jaringan internet di perbatasan tidak terlepas dari keputusan sekolah dan murid meminta ujian luring, terkadang sinyal internet provider Indonesia dan Malaysia saling bertabrakan adu kuat.

Tidak jarang signal Malaysia masuk ke wilayah pulau Sebatik, begitu pula sebaliknya, adu kuat sinyal ini tanpa bisa menghabiskan pulsa data handphone, karena pemilik ponsel tidak mengetahui signal berganti.

“Signal di Sebatik saling adu kuat, kadang tiba-tiba pulsa internet habis karena ponsel kita aktif menggunakan signal Malaysia,’ sebutnya.

Penulis : Budi Anshori | Editor : Rachmat Rolau

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *