Wabup H.Agus Tantomo melakukan pertemuan dengan Disbudpar Berau, membahas langkah persiapan penyusunan SOP ketika destinasi wisata kembali dibuka. (foto Humas Pemkab)

TANJUNG REDEB.NIAGA.ASIA– Mulai berlakunya new normal di Indonesia membuat industri pariwisata juga mulai bersiap. Berau yang memiliki objek wisata dikenal hingga ke mancanegara, juga mempersiapkan segala sesuatunya termasuk Standar Operasional Prosedur (SOP) yang akan diterapkan di usaha pariwisata. Namun, meskipun ada SOP tak serta merta objek wisata bisa langsung dibuka.

“Sudah dibicarakan dengan Disbudpar Berau dan minggu ini sudah disusun SOP untuk pembukaan objek wisata Berau. Jumat besok akan dilanjutkan meeting grup dengan para pelaku wisata yang ada. Tetapi, dari hasil komunikasi dengan Kadisparprov Kaltim ternyata dari pusat akan ada SOP yang mengatur bagaimana nantinya wisata berjalan,” jelas Wakil Bupati Berau H.Agus Tantomo dihubungi Rabu (10/6/2020).

Meskipun begitu, ditegaskan Agus Tantomo ketika kebijakan relaksasi menuju new normal terjadi di Berau, sektor pariwisata termasuk salah satu yang akan dibuka secara bertahap dan terbatas. Artinya, protokol kesehatan wajib dilaksanakan dengan penuh kedisiplinan.

Dari informasi yang didapat, dijelaskan Kadisparprov Kaltim Sri Wahyuni, jika nantinya akan ada 13 jenis SOP untuk setiap objek wisata. Akan ada perlakuan berbeda misalnya untuk SOP jasa akomodasi, penyediaan makan minum, wisata bahari dan lainnya. Ini sesuai dengan arahan Presiden yang meminta pembuatan SOP dalam bentuk video atraktif, yang mudah dipahami semua lapisan masyarakat.

Lantas bagaimana dengan SOP yang dibuat Berau sendiri untuk pembukaan objek wisata nantinya? Untuk hal ini, dikatakan Wabup, dari provinsi mempersilakan pembukaan destinasi wisata secara bertahap. Namun ada beberapa hal yang memang perlu menjadi perhatian diantaranya atraksi yang ada di objek wisata tersebut.

“Berau kan punya objek wisata yang bisa dibilang eksklusif, dilakukan hanya beberapa orang saja seperti snorkling dan diving. Itu bisa jadi nilai tersendiri untuk dijual ke wisatawan. Jadi, wisata yang ada adalah dengan jumlah pengunjung yang bisa dibatasi,” tambahnya. (mel/adv)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *