Aktivis GMSSSKM Samarinda memungut sampah di permukaan Sungai Karang Mumus. (Foto GMSSSKM)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Masalah sampah yang ada dimana-mana, di daratan maupun di sungai, bersumber dari perilaku masyarakat. Masalah sampah itu, masalah perilaku. Langkah awal untuk mengurangi sampah adalah dengan membangun perilaku sosial  baru dalam masyarakat  Samarinda, menyadarkan dengan sinergisitas pemerintah, akademisi, masyarakat, dan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat).

Hal itu dikatakan Dosen Prodi Pembangunan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Pemerintahan (FISIP)  Unmul, Dr. Sri Murlianti,S.Sos,M.Si  kepada Niaga.Asia, Rabu 19/2/2020) lalu.

Menurut Sri yang telah melakukan penelitian  untuk program pemberdayaan masyarakat di Lempake, Samarinda Utara mengatakan, dia sudah mapping semua potensi di Lempake sampai tahapan kelurahan.

“Saya menyimpulkan, kita harus sinergis membangun sosialnya terlebih dahulu untuk merestorasi ekosistem (termasuk  mengatasi masalah sampah), penyadaran-penyadaran ini juga harusnya  ditangkap semua pihak, pemerintah maupun masyarakat. Perlu program penyadaran  dalam masyarakat, agar perilaku membuang sampah sembarangan dihentikan,” ungkapnya.

Prodi Pembangunan Sosial Fisip Unmul adalah salah satu pendukung yang rutin praktek dan melakukan kunjungan ke Sekolah Sungai Karang Mumus (SeSuKaMu) yang dibangun Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSSSKM) Samarinda. Mahasiswa Fisip Unmul telah terlibat langsung  menanam  4000 bibit pohon penghijau dari 10.000 yang ditanam GMSSSKM.

Dr Sri mengutip hasil penelitiannya mengungkapkan,  mengubah perilaku masyarakat membuang sampah sembarangan yang sebagian bermuara ke sungai-sungai dalam Kota Samarinda melalui penyadaran sangat penting, karena ketergantungan warga terhadap sumberdaya sungai, terutama air cukup tinggi.

“Air dimanfaatkan langsung untuk keperluan sehari-hari seperti MCK dan pengairan,” katanya.

Meski demikian, perilaku masyarakat tidak menunjukkan kepedulian terhadap kualitas air. Warga lazim membuang sampah dan limbah langsung ke sungai. Kalaupun tidak maka sesampahan akan dibakar oleh warga. Di lingkungan belum tumbuh engelolaan sampah berbasis komunitas dan tidak ada juga fasilitas pembuangan sampah sementara yang memadai, termasuk jumlah masih kurang.

Sementara itu, Koordinator Lapangan GMSSSKM Samarinda, Bachtiar yang di media sosial dikenal dengan nama akun Facebook, Iyau Tupang yang ditemui terpisah kepada Niaga.Asia, Kamis (20/2/2020)  membenarkan kesimpulan Dr Sri yang mengatakan, masalah sampah adalah masalah perilaku masyarakat.

“Benar itu, terkait dengan perilaku membuang sampah sembarangan, mengatasinya tentu dengan penyadaran, membangun perilaku baru dalam masyarakat,” ujarnya.

Menurut Iyau, swadaya atau partisipasi masyarakat memungut sampah di SKM yang diinisiasi GMSSSKM sejak tiga tahun lalu, sebenarnya sangat tinggi, cuma kegiatan itu belum bisa dikategorikannya sebagai tumbuhnya kesadaran baru sebab, kegiatan memungut sampah masih dikaitkan dengan event tertentu, atau hari-hari besar tertentu.

“Kalau ada event, misalnya hari bhakti, atau hari ulang tahun, dan hari-hari besar terkait dengan sungai dan lingkungan, baru memungut sampah,” kata Iyau. “Sedangkan perilaku membuang sampah sembarangan jalan terus,” tambahnya. (fs)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *