aa
GNH dan kelompok masyarakat peduli lingkungan bersihkan longsoran dan sisa-sisa pohon penyumbat aliran sungai.  (Foto Istimewa/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Peduli lingkungan hidup dan kelestarian air sebagai sumber hidup, Generasi Nunukan Hijau (GNH) bersama sejumlah organisasi, mahasiswa dan pelajar mempelopori gerakan bersihkan aliran sungai yang  terhubung dengan embung Sungai Bolong Nunukan.

“Ini kegiatan komunitas organisasi yang peduli dengan lingkungan, terutama aliran sungai yang mulai terhubung ke lokasi hutan lindung,” kata Ketua GNH Nunukan Asrul. Senin (13/1/2020).

Komunitas peduli lingkungan melibatkan beberapa kelompok seperti, GNH, TNBA, security (Satpam), Mapala Poltek, Pramuka SMA 1 Nunukan, Tagana, DLH dan PDAM yang jumlahnya mencapai 50 orang lebih.

Keprihatianan lingkungan berawal dari sulitnya sumber air bersih saat terjadi kemarau panjang, embung Sungai Bolong kering, karena bahan baku air yang bersumber dari aliran hutan lindung terhenti akibat semakin tersumbatnya aliran sungai.

Selain sumbatan aliran sungai, tanaman perkebunan sawit yang terus berkembang di Nunukan penyebab menipisnya air, tanaman yang rakus dengan air sangat merugikan masyarakat umum, sebaliknya menguntungkan buat pemilik perkebunan.

“Kami berusaha rubah pikiran masyarakat untuk menanam buah-buahan, jangan lagi menanam kelapa sawit di hulu sana,” ujar Asrul.

aa
GNH berupaya memindahkan potongan kayu dari badan sungai. (Foto Istimewa)

Dari hasil kegiatan ini,  GNH menemukan beberapa tebing-tebing sungai yang longsor menutupi bibir sungai yang menyumbat aliran sungai dan ditambah lagi bongkaran rebahan pohon-pohon besar sisa-sisa penebangan hutan puluhan tahun lalu.

Kelompok peduli lingkungan berhasil membuka dua titik longsoran tanah dan batu berukuran besar yang selama ini menyumbat aliran sungai, kami juga memindahkan pohon-pohon besar yang puluhan tahun membentang di aliran sungai.

“Kerja berat, tapi ini harus kita lakukan, teman-teman memindahkan batu besar dan pohon-pohon di potong dipindahkan,” tuturnya.

Kedepan, kata Asrul, GNH melakukan  kegiatan pembersihan aliran sungai menuju embung Sungai Bolong rutin dirawat dan dibersihkan, sebab banyak  ranting pohon dan lainnya yang bisa menutup aliran susngai.

Sumbatan kotoran pasti kembali ada dilokasi aliran sungai, karena itulah, perlu perawatan setidaknya 1 atau 2 bulan sekali petugas PDAM Nunukan melihat kondisi aliran suangi disana. “Banyak cabang aliran sungai tersumbat disana, makanya perlu dijaga sungai, perlu dibersihkan dan perlu adanya kegiatan yang lebih besar untuk memelihara sungai,” bebernya.

Selain gerakan pembersihan sungai, Asrul menyarankan PDAM atau pemerintah membuat kantong-kantong air di muara – muara cabang sungai yang fungsinya sebagai cadangan air saat kemarau.

“Saya minta PDAM dan pemerintah peduli lingkungan sungai, jangan hanya mengandalkan kelompok lingan yang sangat terbatas biaya dan tenaga,” katanya. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *