Hajjah Asmah Gani Meninggal Dunia

Hj Asmah Gani saat menjabat Wakil Bupati Nunukan. (foto Budi Anshori/Niaga.Asia)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Seluruh keluarga larut dalam kesedihaan atas meninggalnya Hj. Asmah Gani. Mantan Wakil Bupati Nunukan periode 2011-2016 sempat menjalani perawatan di RS Tarakan, sebelum dikabarkan berpulang kerahmatullah, Senin 22 Februari 2021.

Kabar duka meninggalnya tokoh kharismatik Kabupaten Nunukan, ini menyebar luas, ribuan ucapan balasungkawa mengalir dari masyarakat serta pemerintah daerah dan Provinsi Kaltara, kebaikan dan jasa almarhum semasa hidup semoga menjadi ladang amal.

Almarhum dikebumikan pada, Selasa 23 Februari 2021 di komplek pemakaman muslim Mamburungan kota Tarakan, dengan prosesi protokol kesehatan diiring sejumlah kerabat dekat.

Sebagai anggota DPRD Kaltara dari Fraksi Partai Golkar, almarhum sempat menyampaikan niat ingin mengajak Siti Raudah anggota DPRD Nunukan menggelar reses bersama di Nunukan, keinginan itu menjadi kenangan terakhir direncanakan ibu dan anak ini.

“Beliau mengajak saya reses bersama bulan Februari, beliau ingin uang resesnya dibelikan beras disedekah untuk masyarakat,” kata Siti.

Atas nama keluarga, Raudah memohon maaf apabila selama hidupnya orang tua kali memiliki salah kepada masyarakat, sebab bagaimanapun juga, almarhum pernah menjadi pemimpin di Nunukan yang mungkin ada kesalahan ditinggalkan beliau

Raudah mengatakan, almarhum memiliki penyakit obesitas, hipertensi dan paru-paru mulai bermasalah, ditambah faktor usia lebih 65 tahun, kondisi inilah yang mungkin mempercepat proses penularan Covid-19.

Lewat sambungan telepon, putri dari almarhum ini menyebutkan, pada awalnya ibunda tidak memiliki sakit, hanya saja, kondisi fisik almarhum tidak terlalu kuat karena mengidap penyakit asam urat.

“Selama bertahun-tahun ibu mengkonsumsi obat herbal, ternyata efeknya mempengaruhi fisiknya dan kondisi ini terjadi hampir 1 bulan,” katanya.

Keluarga akhirnya bersepakat memeriksakan kesehatan almarhum ke Tarakan dan selama disana, almarhum ditemani Siti Raudah bersama adiknya serta keluarga yang sebelumnya telah berada di Tarakan.

Almarhum menjalani rawat inap di Rumah Sakit (RS) Pertamina Tarakan selama 5 hari, dan sebelum menjalani perawatan, pihak rumah sakit telah melakukan pengambilan sample swab yang hasilnya negatif.

“RS Pertamina tidak mau menerima pasien terpapar Covid-19, makanya semua pasien disana wajib swab,” terangnya.

Paska menjalani pengobatan dan istirahat beberapa hari, kesehatan ibunnya terlihat membaik.  Raudah berencana membawa pulang ke Nunukan, namun dari pihak rumah sakit meminta terlebih dulu dilakukan kontrol kesehatan.

Setelah menjalani kontrol kesehatan sebanyak 2 kali, almarhum tiba-tiba batuk dan lehernya gatal. Atas saran dokter lagi, almarhum kembali menjalani pengambilan swab yang hasilnya positif terpapar Covid-19.

“Dokter kaget kenapa almarhum tiba-tiba batuk, saya jelaskan beliau batuk 4 hari setelah menjalani kontrol kesehatan,” sebutnya.

Rencana pulang ke Nunukan dibatalkan, selanjutnya menjalani isolasi mandiri selama 5 hari dirumah dan selama isolasi, kondisi kesehatan semakin menurun, karena mengalami diare berkali dalam sehari dan batuk.

Dengan kondisi kesehatan semakin turun, almarhum dilarikan ke RSUD Tarakan, untuk menjalani rawat inap, sebab dari manajemen RS Pertamina tidak melayani pengobatan pasien dengan hasil swab positif.

“Selama di RSUD Tarakan, almarhum dipasangkan full pentilator karena sesak nafas, kondisi kesehatannya naik turun sampai kemarin malam drop,” ungkap putri almarhum. (002)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *