Pasar Induk Sanggam Adji Dilayas Tanjung Redeb, Kabupaten Berau. ( Rita Amelia/Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Harga bahan pokok di 23 pasar induk di Kalimantan Timur (Kaltim) terkendali sepanjang bulan Mei (bulan Ramadhan hingga Idul Fitri), sedangkan harga  gula pasir yang mengalami kenaikan sejak awal Januari  2020 karena stok gula nasional kurang, sudah diatasi dengan menggelar operasi pasar gula. Selain itu stok (ketersediaan) bahan pokok di Kaltim kondisinya aman, cukup untuk 2,5 bulan ke depan.

Demikian disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Provinsi Kalimantan Timur, H Fuad As’sadin dalam rilsinya yang diterima Niaga.Asia, Kamis (21/5/2020).

Menurut Fuad, stok bahan pokok secara rata-rata pada awal bulan Mei 2020,  atau ketahanan stok di Kaltim mencapai rata-rata untuk menyediakan 2,5 bulan kedepan. Angka stok tersebut lebih rendah dibandingkan persediaan awal April 2020 lalu, karena ada gangguan pasokan akibat kebijakan social distancing.

“Pembatasan keluar masuk orang dari luar daerah ke Kaltim berimplikasi kepada pelayaran sejumlah kapal yang memasok/menangkut bahan pokok. Alasannya tanpa membawa penumpang, kecuali bahan pokok menyebabkan biaya operasional tak tercapai, akibatnya bukan hanya tidak untung bahkan cendrung merugi. Belum lagi alasan keselamatan awak agar tak tertular,” papar Fuad.

Dilaporkan ada beberapa kapal dari pelabuhan Samarinda dan Balikpapan, sempat mengehntikan operasinya. Namun pengangkutan melalui kontainer dan bahan pokok dari Surabaya lancar, hanya saja memilih rute  Surabaya – Balikpapan.

“Kondisi stabilitas di Balikpapan, lebih baik dibandingkan di Samarinda, terutama pemenuhan kebutuhan sayuran dan bumbu-bumbuan,” ungkapnya.

23 Pasar Induk

Dijelaskan pula, pemantaun harga dan stok bahan pokok di Kaltim dilakukan di 23 Pasar Induk yang tersebar di 10 kabupaten/kota. Pemantauan dilakukan oleh 15 orang petugas pantau yang tinggal di kabupaten/kota masing-masing.

Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan Usaha Kecil Mengah Provinsi Kalimantan Timur, Ir. Fuad Assaddin, M.Si. (Foto Intoniswan/Niaga.Asia)

Pemantauan dilakukan secara intensif setiap hari, dan hasilnya dilaporkan dengan menginput hasil pantauan ke SISTEM INFORMASI PERDAGANGAN KALTIM (SIP KALTIM). oleh  petugas pantau sebanyak 15 orang. Oleh Perindagkop & UKM Kaltim, laporan tersebut diinput ke Informasi dan Pelaporan Perkembangan Harga Bapok Secara Nasional melalui Aplikasi SP2KP secara rutun setiap hari.

Selain itu, kata Fuad, juga dilakukan  pemantauan kondisi harga dan pasokan langsung ke pasar tradisional, ritel modern dan gudang distributor dan bila terjadi kenaikan harga yang diluar kewajaran, akan mengambil langkah-langkah koordinatif untuk menstabilkan harga. Seperti gula pasir dan bawang putih.

Pemantauan pada tanggal 14 Mei 2020 yang lalu, mengindikasikan sebagai berikut: Pertama;      Berdasarkan hasil pemantauan di pasar rakyat, secara umum stok barang kebutuhan pokok tersedia cukup sedangkan untuk harga Bapokting Relatif Stabil. Kedua; Stok barang kebutuhan pokok di gudang BULOG divre dan Distributor setempat, antara lain beras, gula, dan minyak goreng cukup untuk memenuhi kebutuhan. Ketiga; Hasil pemantauan di ritel modern, sebagian beras sudah dijual sesuai HET, dan ritel modern juga masih konsisten melaksanakan kebijakan HET .

Keempat; Melakukan Kegiatan Operasi Pasar Gula Pasir dan Pasar Murah Online bekerjasama dengan Distributor.  Kelima; Penguatan kerjasama perdagangan antar daerah (dengan Sulsel, Sulbar, Jatim, Bantaeng, Brebes) Berkoordinasi dengan OPD Terkait. Keenam; Mendorong penguatan fungsi perusda Kab/Kota dalam pengembangan usaha Barang Kebutuhan  Pokok

Operasi Pasar Gula

Komoditi dengan harga cukup tinggi dan ketersediaan terbatas, sejak akhir Januari 2020 yang lalu adalah gula, sementara itu harga bawang putih relatif turun, minyak goreng stabil, bahkan daging ayam ras secara rata-rata turun.

Kasus penurunan di Berau, Kutim dan Kukar disampaikan pemerintah kabupaten yang bersangkutan, bahwa masing-masing Pemkab membantu membeli hasil petani, yang di sumbangkan ke beberapa pesantren dan masyarakat tidak mampu.

Bawang merah di Balikpapan, lebih rendah daripada di Samarinda, dan beberapa kota yang lain. Sumber bawang merah Balikpapan dari Surabaya, sedangkan Samarinda ada mengalami gangguan angkutan untuk pelayaran Samarinda – Sulawesi.

Komoditi yang menjadi fokus perhatian pemerintah Provinsi dan Nasional adalah gula. Sempat terjadi kelangkaan gula, pada Maret  dan April 2020, sehingga harganya melonjak dari rata-rata Rp.13.500 bulan Januari 2020, menjadi Rp.20.000 pada menjelang akhir April- minggu pertama Mei 2020.

“Namun dengan beberapa upaya operasi pasar yang dilakukan pemerintah bersama Bulog, termasuk membuka pasar murah mobil keliling dan online, kenaikan harga gula telah tertekan sejak 10 Mei 2020 yang lalu, pada saat itu dilaporkan harga tertinggi berhenti Rp.18.000,” ungkap Fuad.

Diharapkan harga ini akan semakin turun dengan masuknya gula Bulog, dan terpenuhinya ketersediaan distributor. Bulog telah menggelontorkan gulanya kebeberapa daerah, dilaporkan sebagian Paser, Balikpapan, dan Samarinda telah melakukan dengan harga rata-rata Rp.12.500/kg, diharapkan Berau dalam waktu dekat.

“Bulog memiliki 1000 ton gula, yang disediakan untuk operasi pasar. Demikian pula ritel modern, yang memiliki komitmen dan kesepakatan pemerintah memiliki kurang lebih 2.700 ton untuk di jual di gerai mereka juga dengan harga Rp.12.500/kg,” paparnya. Dampak operasi pasar akan menekan harga gula lebih rendah lagi, dibandingkan harga yang berkembang saat ini. Semoga berjalan lancar. (001)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *