anak
Anak-anak Sekolah Sungai Krangmumus merawat pohon yang akan ditanam di pinggir Sungai Karang Mumus. (Foto:GMSSSKM)

SELAIN soal airnya yang bersih, banyak ikan, lalu lalang kapal dan perahu mengangkut aneka komoditi, serta kedalaman airnya, yang diingat oleh banyak orang dahulu tentang Sungai Karang Mumus adalah aneka vegetasi yang menutupi tepian sungai di bagian kanan dan kiri.

Misman, pionir Gerakan Memungut Sehelai Sampah Sungai Karang Mumus (GMSSSKM) yang lahir dan besar tak jauh dari sungai, menceritakan bahwa dahulu di bagian hilir banyak ditumbuhi Pohon Rumbia, Rengas, Putat dan Rambai Padi.  “Pohonnya besar-besar, dahannya membentang hingga diatas sungai.Anak-anak memanjat dan terjun dari dahan itu ke sungai,” kenang Misman.

Tapi itu cerita puluhan tahun yang lalu.Sungai Karang Mumus terutama di bagian hulu telah berubah. Program bernama normalisasi sungai dengan cara merelokasi warga yang berdiam di pinggir/bantaran sungai dan kemudian menurap pinggiran sungai dengan beton telah menghilangkan kisah aneka pepohonan yang dahulu menghiasi tepiannya.

Penurapan di bagian hilir dengan cara memancangkan sheet pile, menguruk kanan kiri sungai untuk jalur RTH dan kemudian setelahnya dibangun jalan inspeksi membuat anak-anak di sekitar sungai tak lagi tahu tentang kisah ‘kejingahan’. Kejingahan adalah iritasi atau gatal-gatal hebat akibat terkena getah pohon Jingah (Rengas) dan untuk menyembuhkannya, seseorang yang terkena akan ‘dikawinkan’ dengan pohon Jingah.

Sungai Karang Mumus hasil normalisasi, sebut saja dari Jembatan Baru (JB) hingga Jembatan Satu (Selili) tak lagi menampakkan aneka vegetasi aslinya.Kalaupun kini ada aneka vegetasi yang tumbuh dikanan-kirinya itu adalah tanaman penghijauan.Tanaman penghijauan yang umumnya ditemui adalah pohon Trembesi.

Kisah Pak Abdul

Beberapa bulan setelah Misman, Bachtiar (Iyau Tupang) dan kawan-kawannya yang lain beraktivitas memungut sampah di bagian hilir Sungai Karang Mumus, akhirnya mereka mempunyai perahu dan mesin. Mobilitas dari gerakan yang kemudian dinamakan GMSS SKM menjadi semakin tinggi.

Dengan perahu berpengerak mesin akhirnya mereka mulai melakukan penyusuran Sungai Karang Mumus untuk mengenali kondisi sungai terkini.Mereka bergerak ke arah hulu.Pada awal pengerakan ke arah hulu berjalan pelan karena banyak terhalang tumpukan sampah dan rerumputan yang bertemu dari arah kanan dan kiri sungai.

Perlahan hambatan itu disingkirkan dan setelah beberapa bulan berusaha akhirnya perahu dengan mesin ketinting bisa tembus hingga depan beton Bendungan Benanga. Lewat susur sungai, GMSS SKM memperoleh perspektif baru tentang Sungai Karang Mumus.Terbit harapan dan semangat baru, bahwa Kota Samarinda masih bisa mempunyai sungai sebagaimana yang ada dalam benak orang-orang bahari.

Ada banyak hal yang ditemui dalam kegiatan susur sungai yang menambah perbendaharaan pengetahuan GMSS SKM terkait kondisi SKM terkini.Namun salah satu yang terpenting adalah pertemuan dengan Pak Abdul, warga Gunung Lingai.

Pak Abdul dan keluarga awalnya tinggal di Gang Nibung.Ikut dalam program relokasi dan mendapat jatah rumah di Talangsari.Namun terbiasa tinggal di tepian sungai, membuat Pak Abdul tak nyaman tinggal di daratan yang jauh dari suasana sungai.

Pak Abdul yang waktu itu bekerja sebagai Satpam kemudian mencari dan membeli lahan di pinggir sungai di daerah Gunung Lingai.Dan diatas lahan itu kemudian dia membangun rumah.Rumah dan lingkungannya yang kini berbeda dengan kebanyakan rumah lainnya yang berdiri di pinggir sungai.

Pak Abdul membangun rumah tidak membelakangi sungai. Menurutnya jika rumah dipinggir sungai dibangun tidak menghadap sungai, maka rumah itu cenderung akan berkembang merangsek badan sungai. Rumah yang membelakangi sungai akan menambah ruangnya dengan cara menambah bagian belakang yang lama kelamaan akan semakin masuk ke badan sungai.  “Kelak kalau dibiarkan maka bagian belakang rumah disini dan diseberang itu akan bertemu di tengah sungai, sungai bakal hilang, pantat rumah-rumah ini makin hari akan makin maju,” ujar Pak Abdul.

Rumah Pak Abdul berbeda dengan kebanyakan rumah tepi sungai lainnya, karena Pak Abdul menanami kanan-kiri dan depan rumahnya dengan pohon Kademba. Pohon yang ditanam lebih dari sepuluh tahun lalu itu kini tingginya sudah melebihi atap rumahnya.Menurut Pak Abdul bibit Kademba dengan mudah dijumpai di lingkungan sungai.Anakannya tumbuh di lumpur-lumpur bahkan di kolong-kolong rumah.

Menurut Pak Abdul, Kademba adalah jenis tanaman yang tahan terendam air. Namun jika masih anakan dan terendam seluruhnya selama beberapa hari (tenggelam) maka akan mati.  pohon berbatang lurus dan berkulit keputihan ini mempunyai manfaat atau khasiat untuk obat herbal. “Pucuk daunnya biasa direbus untuk diminum ibu-ibu yang baru melahirkan, orang yang kena stroke.Kalau saya batuk-batuk, obatnya kulit pohon ini direbus,” terangnya.

aaa
Aneka pohon siap tanam. (Foto:GMSSSKM)

Lingkungan rumah Pak Abdul yang hijau asri, mempunyai sejengkal hutan dengan pohon yang berasal dari lingkungan Sungai Karang Mumus memberikan contoh sekaligus inspirasi bagi GMSS SKM bahwa Sungai Karang Mumus mempunyai potensi untuk menyembuhkan lukanya sendiri.

Pak Abdul bukanlah aktivis lingkungan, bukan pula akli ekologi, namun Pak Abdul adalah salah satu warga tepian Sungai Karang Mumus yang masih merawat budaya air, hidup di tepian air sungai dengan rasa hormat pada sungai.  Menghijaukan lingkungan rumahnya bukan dengan pepohonan yang didatangkan dari luar.

Menanam bukan sekedar untuk menghijaukan melainkan untuk menjaga ekosistem sungai dengan pepohonan tempatan atau biasa disebut sebagai spesies lokal/native spesies.Hal ini senada dengan yang kerap disampaikan oleh para ahli ekologi, bahwa salah satu fungsi atau layanan ekologis pohon atau tumbuhan adalah sebagai sumber nutrisi bagi ekosistem setempat.

Mengintroduksi pohon asing utamanya yang cepat tumbuh mungkin akan menghijaukan, namun serasahnya mungkin tidak akan dikenali oleh mahkluk decomposer, sehingga daun-daun atau dahan kering yang jatuh tidak akan terdekomposisi menjadi nutrisi baik bagi lingkungan sungai maupun aneka mahkluk yang hidup disana.

Muang Ilir

Pos atau tempat singgah kegiatan susur sungai adalah Muang Ilir.Hingga kemudian terjalin interaksi dan komunikasi dengan sebagian warga disana.Saling kenal ini membuat GMSS SKM yang mulai berpikir tentang memulihkan sungai kemudian memutuskan Muang Ilir menjadi lokasi baru untuk kegiatan GMSS SKM selain Posko Pangkalan Pungut di Jl. Abdul Muthalib.

Awalnya GMSS SKM menyewa lahan dan sebuah pondok, namun karena pondoknya terlalu dekat sungai, maka menjadi kurang ideal dengan semangat yang diusung oleh GMSS SKM.Hingga kemudian atas bantuan dari Pak Sugeng C dan Ibu Nurahma, GMSS SKM mempunyai lahan yang kurang lebih cocok dengan yang diharapkan.

Diatas lahan ini, sejak bulan Mei 2017, GMSS SKM kemudian membangun Bale Sekolah Sungai Karang Mumus. Dan mulai Juli 2017 atas bantuan BP DAS HL Mahakam Berau lewat Kebun Bibit Rakyat (KBR), GMSS SKM mulai melakukan kegiatan penyemaian aneka tanaman native spesies yang indukannya ditemukan di sepanjang Sungai Karang Mumus dan Sungai Mahakam.

Lokasi yang dipakai untuk membibitkan dan sekarang disebut sebagai Kebun Bibit Karangmumus adalah lahan pinjaman dari Pak Jarni, warga Muang Ilir.Selain itu juga ada dukungan dari DLH Kota Samarinda yang menempatkan satu pegawai honorer untuk bekerja di lingkungan Sekolah Sungai Karang Mumus.

Dari Bulan Juli 2017 hingga sekarang, KBK telah berhasil membibitkan dan membesarkan aneka pohon seperti Bungur, Rengas/Jingah, Putat, Kabuao, Katong, Benggalon dan aneka buah lokal.Dan masih terus berupaya untuk meningkatkan keberhasilan tingkat hidup untuk persemaian Kademba, Pule dan Rambai Padi serta Bengkal.

Untuk bibit pohon yang belum berhasil disemai dengan tingkat hidup yang tinggi seperti Kademba. Pule, Rambai Padi dan Bengkal, juga jenis pohon yang belum diketemukan pohon indukannya, GMSS SKM mengambil bibit yang ditemukan di alam.

Saat ini tersedia kurang lebih 9000 ribu pohon siap tanam dan GMSS SKM sendiri bersama dengan berbagai kelompok telah melakukan penanaman di area yang disebut oleh warga Muang Ilir sebagai Jalur Hijau Sungai Karang Mumus.

Berbagai kelompok yang terlibat melakukan penanaman antara lain KPPN Samarinda, Mahasiswa S1 PIN, Mahasiswa Penyayang Flora dan Fauna, Siswa SMA Katolik Asisi, Perwakilan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat dan lain sebagainya. Kini sebagian pohon yang ditanam mulai pertengahan tahun 2017 itu sudah mulai menghadirkan nuansa hijau di lingkungan sekitar Sekolah Sungai Karang Mumus.Hampir semua pohon yang ditanam hidup dan berkembang dengan baik.

Ayo Menanam

Dengan tersedianya ribuan bibit pohon yang siap tanam, GMSS SKM mengajak seluruh warga Kota Samarinda atau siapapun yang peduli pada pemulihan Sungai Karang Mumus untuk ikut serta berpartisipasi dalam kegiatan penanaman pohon guna menumbuhkan kembali riparian Sungai Karang Mumus.GMSS SKM tentu saja tidak akan mampu melakukan kegiatan pemulihan sungai atau lazimnya disebut sebagai restorasi ekosistem ini sendiri. Sebab kegiatan penanaman membutuhkan tenaga dan juga biaya yang tidak sedikit.

Proses kegiatan penanaman dimulai dari penyiapan lahan, pembuatan lubang, pengangkutan bibit dari bedeng pembesaran ke lokasi tanam, menanam dan menyiram jika diperlukan. Tanaman kemudian akan diberi tanda dengan patok/ajir atau turus. Pemberian tanda ini penting agar tanaman kelihatan karena lokasi tanam ditumbuhi rerumputan.Dan rerumputan ini sering diambil oleh para pencari rumput untuk memberi makan ternak. Jika tanaman tak diberi tanda maka akan ikut ditebas oleh pencari rumput.

tan
Sebagian pinggir Sungai Karangmumus yang sudah ditanami pohon sejak pertengahan tahun 2017. (Foto:GMSSSKM)

Tugas yang lebih berat justru menanti setelah penanaman.Pohon yang ditanam harus dijaga dengan dirawat.Dikarenakan rerumputan biasa tumbuh lebih cepat dari pohon sehingga bisa menutupi pohon dan pertumbuhan pohon menjadi pelan. Selain itu pohon yang ditanam juga sering ditutupi oleh jenis tumbuhan yang merambat, yang jika dibiarkan juga akan membuat pertumbuhan pohon yang ditanam menjadi tidak sempurna.

Dengan semakin banyak pohon yang ditanam, semakin luas area tanamnya maka dibutuhkan lebih banyak dukungan tenaga dan peralatan untuk melakukan perawatan. Sehingga tanpa dukungan dan partisipasi dari masyarakat Kota Samarinda atau mereka yang peduli pada Sungai Karang Mumus, beban yang dihadapi oleh GMSS SKM ke depan akan semakin berat untuk ditanggung sendiri.

Selain menanam, menjaga dan merawat pohon yang telah ditanam, GMSS SKM juga harus tetap mempertahankan stok pohon yang siap tanam.Maka kegiatan penyemaian dan pembibitan juga harus terus berjalan.Dan ke depan diperlukan lokasi atau tempat pembibitan yang lebih baik karena lokasi pembibitan saat ini merupakan lokasi sementara karena berada dalam lahan pinjaman dari salah seorang warga Muang Ilir.

Biarkan Sungai Tetap Menjadi Sungai

Jadi kenapa GMSS SKM mengembangkan Kebun Bibit Karangmumus dan kemudian menanam pepohonan yang dihasilkan darinya?.Semua ini bermuara dari keyakinan dan perjuangan GMSSSKM untuk melakukan transformasi pendekatan terhadap sungai yakni dari normalisasi ke restorasi, dari pendekatan pembangunan sungai (teknik hidrolika) ke infastruktur hijau (eko hidrolika).

GMSS SKM meyakini tidak ada cara terbaik untuk memulihkan, menjaga dan merawat sungai selain membiarkan sungai tetap menjadi sungai. Sungai (alam) yang sesungguhnya adalah sungai yang berkelok, airnya mengalir tenang, kanan kirinya ditumbuhi aneka pepohonan.Sungai adalah ekosistem, yang merupakan rumah (habitat) bagi berbagai komunitas mahkluk hidup.

Pangkal dari kerusakan sungai adalah pandangan dan perilaku yang menempatkan sungai hanya dalam kepentingan manusia.Sungai yang merupakan sumber hidup (source of life), kemudian lebih dipandang sebagai sumberdaya untuk diekploitasi hanya demi kepentingan manusia semata. Pendekatan kepada sumberdaya selalu bersifat ektraksi dengan kecenderungan yang berlebihan sehingga akan menganggu keseimbangan sungai.

Penanaman di pinggir sungai untuk menumbuhkan riparian adalah tahap awal untuk memulihkan atau mengembalikan kondisi sungai kepada keadaan alamiahnya.Namun untuk mengembalikan sungai seutuhnya tidak bisa hanya berkutat hanya pada aliran sungai melainkan harus meluas ke Daerah Aliran Sungai.

Maka jalan GMSS SKM masih panjang, keberadaan Kebun Bibit Karangmumus harus terus dikembangkan karena penanaman kelak harus diperluas ke area tangkapan air, resapan air dan area-area lindung sungai dan badan air lainnya. (Artikel ini ditulis Yustinus Sapto Hardjanto, Adivisor GMSSSKM)

Berita Terkait