AA

@Nabilah Ifani Aflah

SUDAH menjadi tradisi bagi umat Islam di Indonesia, khusus perantau untuk mudil lebaran, atau saat hari raya  Idul Fitri berkumpul dengan keluarga besar di kampung masing-masing. Tradisi mudik juga dimanfaatkan untuk mengaktualisasikan atas suatu keberhasilannya secara ekonomi dalam setahun terakhir.

Mudik lebaran menjalin pertemuan antara anak dan orang tuanya dan anggota keluarga lainnya, diyakini bukan merupakan pertemuan biasa. Seperti juga kata pepata bahwa; “sejauh-sejauh terbang bangau sekali waktu pulangnya kerumah juga.”

Para perantau rela bermacet-macetan mengeluarkan biaya lebih untuk menjalani rutinitas mudik tahunan. Beratnya tantangan dan perjuangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan untuk mudik.

Paling tidak ada empat alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung, yaitu:

Pertama; Dorongan dari sisi keagamaan yang telah menjadi budaya. Karena Islam mengajarkan bahwa mereka yang berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Tetapi yang diampuni hanya dosa di hdapan Allah SWT, sedangkan dosa kepada orang tua, saudara kandung, dan tetangga sekampung tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan secara langsung.

Kedua; Rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi dan biaya yang lebih besar untuk bisa pulang kampung, tidak menjadi persoalan mereka tetap dilakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Bernostagia di kampung halaman. Masa kecil saat masih sekolah di kampung halaman adalah masa-masa yang paling indah dan menyenangkan. Untuk bernostalgia saat ini banyak dengan melakukan reuni baik teman sekolah, teman kuliah bahkan teman bermain saat kecil sambil mengingat-ingat kembali masa lalu yang penuh dengan kenangan indah itu.

aa
Jutaan orang kota mudik merayakan Idul Fitri membawa uang triliuan ke desa-desa.

Ketiga; Unjuk diri atas kesuksesan di perantauan. Budaya pamer berlaku kepada semua tingkatan sosial. Untuk pamer keberhasilan ini yang lebih nyata dengan membawa mobil pribadi pulang kampung. Bahkan beberapa orang rela untuk mencarter mobil hanya khusus untuk digunakan disaat mudik dan mondar mandir di kampung halaman selama lebaran Idul Fitri.

Dampak Negatif

Tentunya budaya mudik lebaran Idul Fitri ini mempunyai dampak kepada semua orang,  termasuk dampak  negatif misalnya;

Kesatu; Konsumerisme. Pemudik cenderung selama di kampung  pamer kemewahan, boros dan berbagai perilaku yang tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Islam dan tujuan puasa itu sendiri.

Kedua: Perilaku pamer tersebut mengundang cemburu dan iri hati para penduduk kampung. Pulangnya para pemudik untuk berlebaran di kampung halaman, dengan memamerkan kemewahan misalnya mobil yang bagus, baju dan sepatu yang baru, bisa menimbulkan cultural shock (goncangan budaya).

Di mana orang-orang kampung atau desa meniru dan mengikuti cara hidup orang kota yang pulang kampung, misalnya berutang dan atau menjual harta benda seperti tanah untuk membeli motor, mobil dan sebagainya sebagai asesori kemewahan.

Bisa juga orang-orang kampung terutama anak-anak muda, laki-laki dan perempuan merantau, dalam rangka mengikuti jejak para pemudik. Untuk mendapatkan harta dan kemewahan, mereka menghalalkan segala cara untuk mendapatkan uang dan harta, supaya tahun berikutnya, mereka juga bisa mudik dan menampilkan kekayaan dan kemewahan seperti saudara-saudaranya yang mudik tahun lalu.

Ketiga; Memacu urbanisasi dan migrasi. Mudik lebaran juga bisa berdampak negatif yang memacu peningkatan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari kampung atau desa ke berbagai kota di Indonesia. Selain itu, juga dapat mendorong meningkatnya migrasi, yaitu perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain.

Dampak Positif

Di seberang dampak negatif yang dibawa pemudik, juga ada dampak positifnya, yakni ada dampak ekonomi. Mudiknya para perantau telah menimbulkan dampak positif bagi ekonomi di kampung halaman. Mereka pulang dengan membawa uang dan berbelanja telah mendorong perputaran ekonomi yang tinggi di kampung, sehingga para petani, nelayan dan pemerintah daerah mendapat manfaat ekonomi.

aa
Ribuan pemudik dengan sepeda motor, kadang mengabaikan faktor keselamatan selama di jalan raya.

Pemudik yang membawa uang dalam jumlah cukup banyak secara tak langsung mendorong ekonomi  kampung, sedangkan pada aspek sosial, pemudik memberi sedekah, zakat fitrah dan zakat harta (mal) kepada keluarga dan penduduk di kampung sendiri.

Silaturahim (hubungan kasih sayang) antara pemudik dan penduduk kampung terbangun kembali, yang selama hampir satu tahun tidak pernah bertemu. Ini sangat positif untuk memelihara, merawat dan menjaga bangunan kebersamaan satu kampung.

Persatuan dan kesatuan terjaga dan terpelihara. Bangsa Indonesia yang amat tinggi rasa keagamaan (religiusitas)-nya, telah memberi andil yang besar untuk menjaga, merawat dan memupuk rasa persatuan dan kesatuan seluruh bangsa Indonesia melalui medium silaturahim Idul Fitri. Hal ini, tidak bisa dinilai dengan pengorbanan harta dan tenaga yang dilakukan para pemudik.

Pengamalan agama dan peristiwa mudik lebaran, juga mempunyai dampak positif dalam pengamalan ajaran Islam. Karena di tengah kemajuan yang membawa manusia kepada perilaku individualistik, yang enggan berhubungan dengan pihak lain dan merasa terganggu, melalui medium silaturahim Idul Fitri dalam rangka hubungan manusia (hablun minannaas) tetap diamalkan, dan bahkan telah menjadi budaya seluruh bangsa Indonesia.

Secara sosiologis, mudik Lebaran mendekatkan si perantau yang sudah sukses dengan mereka yang masih berdomisi di kampung halaman seperti orang tua, famili dan teman-teman. Peristiwa mudik, bisa memperbaharui kembali hubungan sosial dengan masyarakat sekampung, yang tentu berdampak positif dalam memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa.

Apapun motivasi kita untuk pulang mudik ke kampung kembali kepada diri sendiri dan yang paling penting dapat melaksanakan tujuan dari idul fitri itu sendiri untuk berkumpul dengan keluarga dan saling memaafkan. Selamat mudik lebaran untuk yang pulang kampung untuk hari raya Idul Fitri tahun 1440 H.

Penulis:  Nabilah Ifani Aflah adalah Mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *