Pasien Tidak Jujur Jadi Petaka Kasus Covid-19

Ilustrasi petugas medis mengenakan alat pelindung diri (APD) menangani kasus Virus Corona (Covid-19). (Foto : istimewa/Google Images)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – RSUD AW Syachranie Samarinda, mengisolasi sekitar 50 petugas medis, yang dicurigai terpapar Covid-19 sambil menunggu hasil rapid test. Ketidakjujuran pasien jadi sumber petaka tidak hanya bagi petugas medis, melainkan masyarakat secara umum.

Dalam penanganan pasien, ada saja pasien yang menyembunyikan riwayat perjalanan. Kasus pasien itu pun, ditangani secara penanganan pasien sakit biasa.

“Pasien tidak terus terang. Ada pasien sembunyikan riwayat perjalanannya,” kata Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Kalimantan Timur dr Nathaniel Tandirogang, saat berbincang bersama Niaga Asia, Selasa (29/4) malam.

Dalam beberapa kasus Covid-19, ketidakjujuran pasien itu, baru ketahuan saat terkonfirmasi positif melalui hasil dari uji cepat rapid test.

“Nanti, setelah terkonfirmasi (melalui rapid test), ketahuan dalam perawatan lanjutan semakin memburuk, dan mulai berterus terang. Kan ini sudah terlanjur,” ujar Nathaniel

“Ketidakjujuran, sangat meresahkan petugas tenaga kesehatan. Juga sebenarnya merugikan semua pihak, masyarakat umum. Untuk dokter, kan juga berinteraksi dengan pasien-pasien lainnya (bukan kasus Covid-19),” tambah dia.

Menurut Nathaniel, ketika tidak diketahui informasi sebenarnya, dokter juga tidak tahu pasien yang ditangani memiliki kontak dengan orang lain. “Ketika tidak tahu informasi sebenarnya, dokter tidak tahu pasiennya ada kontak dengan PDP kan? Itu risiko yang terjadi di lapangan,” ungkap Nathaniel.

Tren Kasus Covid-19 di Kaltim Naik

Nathaniel juga punya pendapat terkait tren kasus Covid-19 di Kaltim beranjak terus naik, hingga tembus 119 kasus per hari ini. Kecepatan untuk melakukan diagnosa swab, menjadi salah satu hal penting untuk menekan laju sebaran Covid-19.

“Karena terhadap diagnostik penentuan (pemeriksaan swab) harus berhari-hari, krn belum bisa memeriksa sendiri. Masih dikirim ke Surabaya,” terang Nathaniel.

Hal lain tidak kalah penting, aktivitas masyarakat yang masih terbilang ramai, di tengah masa pandemi. “Tingkat kesadaran masyarakat masih minim. Perlu ketegasan pemerintah sebenarnya. Masyarakat kita kan cenderung, apakah mungkin karena kasus masih rendah?

“Tingkat kekhwatiran sudah bagus, tidak panik. Tapi sayangnya tidak waspada. Di sini penting, bagaimana pentingnya penggunaan masker. Apalagi saat berada di luar rumah,” pungkas Nathaniel. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *