Alat tes cepat molekuler (TCM) TBC, yang bakal digunakan untuk mendeteksi orang dengan virus corona, bekerja dengan pendekatan reaksi rantai polimerase (PCR). (Hak atas foto ANTARA Image caption)

JAKARTA.NIAGA.ASIA-Pemerintah Indonesia berencana menggunakan alat pedeteksi penyakit tuberculosis kebal obat atau TBC multi drug resistance di berbagai rumah sakit dan puskesmas untuk mendeteksi pasien virus corona.

Alat ini dinilai presisi, namun alih fungsinya untuk Covid-19 diperkirakan akan terganjal pengadaan komponen, serta berdampak buruk pada pengentasan TBC, salah satu penyakit penyebab kematian tertinggi di Indonesia.

Di Indonesia, setiap hari rata-rata ada 300 orang meninggal karena TBC. Ini berarti 11 hingga 13 orang meninggal karena TBC tiap jam.

Alat tes cepat molekuler (TCM) TBC, yang bakal digunakan untuk mendeteksi orang dengan virus corona, bekerja dengan pendekatan reaksi rantai polimerase (PCR).  Karena berbasis molekuler, dunia kesehatan internasional mengakui hasil uji alat ini akurat. Sejak 2014, Kementerian Kesehatan membeli dan menempatkan TCM TBC ini ke fasilitas kesehatan terpilih di berbagai provinsi agar penyebaran TBC dapat lebih dini dilacak dan diobati.

Alat ini juga bisa lebih cepat dan akurat mendeteksi virus corona ketimbang tes massal yang menggunakan spesimen darah, menurut Pandu Riono, pakar epidemologi di Universitas Indonesia sekaligus anggota Komisi Ahli Tuberculosis Kementerian Kesehatan.

TCM TBC bekerja berdasarkan sampel apusan tenggorokan atau kerongkongan atau metode swab. Pendekatan ini akurat, tapi dikeluhkan publik karena layanannya terbatas di berbagai rumah sakit.

‘TBC jangan dikesampingkan’

Tahun 2018 ada 842.000 kasus TBC di Indonesia dan 39% kasus belum terdeteksi atau diobati. (Hak atas foto Science Photo Library Image caption)

Erlina Burhan, dokter spesialis paru yang menangani kasus tuberculosis di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan, Jakarta, menilai alih fungsi alat tes cepat molekuler dari deteksi TBC ke virus corona perlu dilakukan. Menurutnya ini akan berguna untuk memetakan penyebaran wabah Covid-19 yang belum sepenuhnya terungkap di Indonesia.

Berdasarkan Petunjuk Teknis Pemeriksaan TBC dengan TCM yang disusun Kementerian Kesehatan, alat tes cepat molekuler itu memang bisa dikembangkan untuk pemeriksaan non-TBC, seperti HIV dan hepatitis.

Meski begitu, Erlina menyebut pemerintah harus tetap membeli perangkat deteksi berbasis reaksi rantai polimerase lainnya agar penanggulangan TBC tidak terabaikan.

Menurut data WHO per tahun 2018, Indonesia berada di peringkat ketiga dalam daftar negara dengan kasus TBC terbanyak. Setiap jam, 11 hingga 13 orang meninggal karena TBC. Tahun 2018 ada 842.000 kasus TBC di Indonesia dan 39% kasus belum terdeteksi atau diobati.

“Untuk sementara, tentu akan berdampak pada penanganan TBC. Tapi diagnosis TB mungkin bisa kembali ke miskroskop sebelum ada GeneXpert (alat tes cepat molekuler TBC),” ujar Erlina saat dihubungi.

“Kalau ingin tahu tentang pemeriksaan TBC resisten obat, bisa pakai cara konvensional karena kita sekarang sedang menghadapi wabah nasional Covid-19.”

“Ini strategi sementara yang dampaknya bisa masif asalkan dibarengi dengan pembelian alat PCR lain yang bisa memeriksa sampel dalam jumlah banyak. Kalau PCR itu ada, PCR untuk TBC fungsinya bisa dikembalikan,” kata Erlina.

Menanggapi ini, juru bicara pemerintah untuk penanganan virus corona, Achmad Yurianto, mengeklaim penanggulangan TBC tidak akan mandek walau alat tes cepat dialihkan untuk menemukan orang dengan virus corona.

“Dalam satu kota jika TCM lebih dari satu maka hanya satu yg dipakai Covid, lainnya tetap untuk TBC,” kata Yurianto.

Larangan ekspor Amerika jadi ganjalan

Di sisi lain, menurut pakar epidemologi di Universitas Indonesia Pandu Riono, alih fungsi alat tes cepat dari TBC ke virus corona tidak bisa segera dilakukan karena pemerintah masih harus mengimpor komponen seperti cartridge.

Hingga Kamis (02/04), pemerintah mengumumkan menemukan 1.790 kasus positif virus corona di 32 provinsi di Indonesia. (Hak atas foto ANTARA Image caption)

“Seberapa cepat pabrik memproduksi catridge sehingga bisa menyuplai Indonesia. Kalau alih fungsi ini betul bermanfaat, kan pasti Indonesia akan rebutan dengan negara lain,” ujar Pandu via telepon, Kamis (02/04).

“Tadinya strategi ini memberi harapan, tapi ternyata tidak sebesar yang kita harapkan karena kendalanya masih banyak.”

Cartridge untuk Covid baru di tingkat brosur, belum datang ke Indonesia. Pabriknya baru menawarkan, kita juga belum tahu tingkat akurasinya,” tutur Pandu. Alat tes cepat molekuler TBC yang dimiliki Indonesia bernama GeneXpert, diproduksi Cepheid, perusahaan yang berbasis di Amerika Serikat.

Merujuk laporan Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat Bandung, April 2019, TCM ini direkomendasikan Badan Organisasi Dunia (WHO) sejak tahun 2000 karena bisa menghasilkan diagnosis dalam dua jam.

Sebagai perbandingan, diagnosis melalui metode konvensionial keluar dalam tiga sampai empat bulan.

Wabah menyebabkan permintaan peranti pengujian virus corona melonjak tajam. (Hak atas foto Getty Images Image caption)

Untuk tahap pertama, Indonesia sudah memesan 100 lembar cartridge pemeriksaan Covid-19 kepada Cepheid. Namun pembelian terhambat karena AS melarang ekspor produk itu, kata juru bicara pemerintah untuk wabah virus corona, Achmad Yurianto, secara tertulis kepada BBC Indonesia.

Yurianto mengatakan, pembelian komponen itu kini dialihkan ke pabrik Cepheid di Swedia, yang dijadwalkan akan datang pekan depan untuk uji coba. Pada tahap dua, Indonesia disebutnya akan memesan 112.000 cartridge dan akan digunakan untuk tes masyarakat.

Namun belum jelas kapan komponen ini sampai.”Janji penyedia minggu depan barang bertahap akan masuk ke Indonesia, karena rebutan untuk mendapatkannya,” kata Yurianto.

Per 1 April 2020, Indonesia menguji 6.500 spesimen orang dengan dugaan terjangkit corona.

Uji ini dilakukan 38 laboratorium di seluruh Indonesia di bawah koordinasi Badan Litbang Kesehatan Kemenkes.

Pengujian itu dilakukan dengan metode reaksi rantai polimerase (PCR), yang serupa dengan cara kerja TCM TBC.  Sementara hingga Kamis (02/04), pemerintah mengumumkan menemukan 1.790 kasus positif virus corona di 32 provinsi di Indonesia.

Sumber: BBC News Indonesia

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *