PPDB Ditengah Pandemi, Pendaftaran Secara Online dan Drive Thru

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Puji Setyowati Puji. (Foto Niaga.Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Sesuai Permendikbud Nomor 1/2021 Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) di seluruh tingkat satuan pendidikan, mulai TK, SD, SMP, SMA, dan SMK  di Kaltim dilaksanakan secara online atau dalam jaringan (daring) dan drive thru (sistem berjalan) untuk wilayah yang jaringan internet belum ada (blank spot).

“Tempo hari kami sudah rapat dengan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kaltim dan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) tentang persiapan PPDB. Kalau untuk zonasi, tetap seperti semula,” ungkap anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Puji Setyowati Puji saat dikonfirmasi pada Rabu  (31/03/2021).

Berkaca pada PPDB sebelum-sebelumnya, dimana sejumlah orangtua siswa sempat melayangkan protes akibat keberatan dengan sistem zonasi, maka tahun ini masing-masing jalur  di PPDB mempunyai kuota yang berbeda. Untuk zona sebanyak 50 persen, afirmasi 15 persen, prestasi 30 persen, dan pindahan 5 persen.

“Sekarang sudah ada jalur prestasi, jumlahnya 30 persen atau naik dua kali lipat. Jadi kalau siswa itu pintar dan berprestasi di bidang akademik atau ekstrakurikuler, lalu mendaftar di suatu sekolah dengan sertifikatnya, sudah pasti diprioritaskan,” lanjut politisi dari Partai Demokrat itu.

Menurut Puji, saat ini aturannya sudah tidak kaku bahwa yang berprestasi harus memilih sekolah yang dekat dengan rumah. Sehingga jauh lebih mudah. Sejak pandemi berlangsung, PPDB dengan sistem drive thru juga turut dipakai.

Puji mencontohkan beberapa daerah yang jangkauannya jauh, seperti di Paser bahkan daerah pinggiran Samarinda yakni Barambai dan Bantuas.

“Di sana kan blank spot ya. Oleh sebab itu, ada inovasi-inovasi yang dilakukan oleh kepala sekolah. Sehingga PPDB-nya dengan cara drive thru. Active case finding, jadi guru yang mendekati siswa,” tambah perempuan berkacamata itu.

Lebih lanjut, PPDB drive thru lebih diperuntukkan bagi sekolah-sekolah yang berada di lokasi jauh, sulit dijangkau, dan berada di daerah blank spot.

“Kalau untuk sekolah di daerah kota yang bisa diakses kapan saja, secara daring, rata-rata sudah memanfaatkan teknologi,” tandasnya.

Penulis: Muhammad Fahrurozi | Editor: Intoniswan

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *