tbc
Balita penderita TBC dirawat inap di RSUD Nunukan. (budi anshori)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA-Sepanjang tahun 2017 RSUD Nunukan, Kalimantan Utara menemukan dan merawat  130 balita (bayi dibawah lima tahun) penderita TBC (tuberkolosis). Balita itu umumnya tertular TBC dari orang-orang terdekatnya.

“Masalah TBC pada balita ini menjadi kambuhan karena orang-orang terdekat si anak, seperti orang tuanya sudah mengidap TBC dan tidak berobat hingga tuntas. Akhirnya menular ke anaknya,” ungkap Dokter Spesialias Anak RSUD Nunukan, Sholeh pada Niaga.asia. “TBC ini penyakit sejak zaman Fir’aun sudah ada, makanya ada program WHO untuk mencegah dan pengobatan,” katanya.

Rendahnya kesadaran orang tua penderita TBC untuk berobat,  membuat anak-anak mereka tertular  juga.  “Kalau anak balita terkena TBC dapat dipastikan tertular dari orang tua atau orang di sekitarnya,” sebutnya.

Sholeh mengatakan, ciri-ciri balita penderita TBC  bisa dilihat dari berat badannya yang tidak normal karena tidak sehat. Penyakit TBC  bisa membuat  balita menderita  kurang gizi atau gizi buruk.

Menurutnya, untuk mengatasi TBC pada balita, dianjurkan pengobatan balita  disertai  pengobatan orang tuanya.  “Sumber penularan dari orang tua, mustahil kita sembuhkan balita dari  TBC kalau orang tuanya yang TBC tidak bersedia diobati,”  ungkap Sholeh.

Sekarang, lanjut Sholeh, sebagai upaya pencegahan penularan TBC, dokter-dokter di RSUD Nunukan saling berkoordinasi. Jika dokter bidang anak menemukan balita  terdeteksi TBC, ditindaklanjuti dengan pemeriksaan orangtuanya. Pengobatan orang tua harus dijalankan sebagai langkah mematikan penularan TBC. Kemudian, balita-balita TBC disarankan mengikuti program pengobatan terapi di RSUD Nunukan hingga sembuh.

“Program terapi kita dari 6 bulan sampai 9 bulan, tergantung jenis TBC pasien. Perlu diketahui, penyakit ini sangat berbeda bisa merenggut nyawa anak kita,”  kata Sholeh. “Selama ini pengertinya penyakit TBC yang diketahui masyarakat sebatas gejala batuk-batuk. Penyakit  TBC pada anak bisa menular pada paru-paru, kulit, otak, kelenjar leher, ginjal dan mata,” ujarnya.

Sholeh mengatakan, RSUD Nunukan pernah menemukan balita penderita TBC pada otak dan kulit. Balita itu  meninggal dunia karena terlambat mendapat pengobatan terapi. Penularan penyakitnya  telah masuk meningitis tinggi dan si anak tidak sadarkan diri. “Meningitis terlalu tinggi  membuat balita tidak sadar. Pengobatan yang terlambat membawa kematian,” kata Sholeh. (002)

Berita Terkait