Para pekerja harian sedang mengikat bibit rumput laut (foto : istimewa)

NUNUKAN.NIAGA.ASIA – Ketua Koperasi Rumput Laut Mamolo Sejahtera Kamaruddin meminta Pemprov Kalimantan Utara dan Pemkab Nunukan melakukan uji sampel terhadap kandungan air dan rumput laut, yang selama ini divonis sebagai penyebab gatal-gatal yang dialami petani rumput laut.

“Katanya, gatal-gatal akibat bakteri pada rumput laut. Tapi apakah benar atau tidak belum ada hasil penelitian yang bisa mempertanggung jawabkan itu,” kata Kamaruddin.

Kamaruddin menerangkan, pemerintah hanya membahasakan gatal-gatal yang diderita petani akibat faktor alam. Namun demikian penilaian itu, tidak dilengkapi penelitian ilmiah, lantaran tidak memiliki alat tes laboratorium.

Teori yang tidak didukung penelitian ilmiah tidak layak menjadi pedoman masyarakat. Oleh karena itu, warga mendekak pemerintah sebaiknya melakukan tes labotorium. “Saya pernah tanya kenapa tidak diperiksa, katanya tidak punya alat. Saya tantang lagi, kami siapkan alat apakah pemerintah bersedia melakukan tes,” ujarnya.

Kamaruddin menyebutkan, beberapa peneliti yang pernah datang ke Nunukan terheran heran melihat melimpahnya jumlah panen rumput laut. Padahal menurut para peneliti itu, laut di Nunukan sangat tidak layak untuk budidaya tanaman laut.

Dari penelitian ahli itu, faktor laut bukanlah penyebab muculnya gatal-gatal yang dialami petani. Kemungkinan ada fakor lain apakah itu disebabkan limbah buangan, atau lainnya yang menyebabkan gatal-gatal. “Berapa sudah peneliti datang dari Jakarta dan Surabaya, mereka bilang tidak layak laut Nunukan bertanam rumput laut. Tapi Alhamdulillah panen kita sangat besar,” ungkapmya.

Selain meminta dilakukan uji laborotium, pembudidaya rumput laut berharap pemerintah daerah menyediakan bibit-bibit baru rumput laut. Pasalnya, selama ini bibit yang mereka gunakan sudah sangat lama, dan berulang-ulang digunakan.

Bibit yang telalu lama dipakai mempengaruhi kualitas hasil panen. Begitu juga terhadap kandungan bakteri. Karena itulah, perlu dilakukan peremaajaan atau pembibitan ulang. Jika diperlukan, datangkan bibit baru yang bisa dibeli petani. “Bibit Katonik sekarang ini sudah bertahun-tahun dipakai. Memang tetap tumbuh subur, tapi secara kualiatas kurang baik,” ujarnya. (002)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *