Pasien N dari kejauhan saat hendak menaiki ambulan yang membawa dia bersama istrinya ke RSUD IA Moeis, Sabtu (11/4) sore. (Foto : Niaga Asia)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA – Pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19, N (52), yang tinggal di Jalan Pemuda Samarinda, sore tadi dijemput kembali tim Gugus Tugas Covid-19 Kota Samarinda, untuk diisolasi di RSUD IA Moeis, Jalan AM Rifaddin, Samarinda.

Sebelumnya, Jumat (10/4) kemarin, pasien N berstatus PDP dari tracing klaster Gowa itu mengamuk dan mengancam petugas medis RSUD AW Syachranie lantaran menolak diisolasi, sehingga terpaksa dipulangkan, namun dengan pengawasan ketat di rumahnya.

Untuk diketahui, pasien N itu dari hasil rapid test dinyatakan positif Covid-19. Namun demikian, untuk memastikan benar tidaknya terjangkit Covid-19, harus dibuktikan melalui pemeriksaan swab di laboratorium.

Pantauan Niaga Asia di lokasi sore ini tadi, ambulan bernomor polisi KT 7037 B, yang berisi petugas lengkap berbaju hazmat (hazardous material), tiba di depan rumah pasien N, pukul 15.30 WITA.

Terlihat pasien N, lebih dulu menaiki ambulan, disusul istrinya. Keduanya meninggalkan rumah menuju RSUD IA Moeis, sekira pukul 15.45 WITA. Penjemputan bersama tim Dinkes Samarinda dan BPBD Samarinda itu, dikawal TNI dan Polri, bersenjata lengkap.

“Iya, benar (pasien N dan istrinya), dibawa, dirawat di ruang isolasi di RSUD IA Moeis. Kan sekarang, dia mau (setelah dibujuk kembali masuk isolasi),” kata Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Samarinda dr Osa Rafshodia, dikonfirmasi Sabtu (11/4) sore.

Petugas medis lebih dulu melengkapi alat pelindung diri berupa baju Hazmat sebelum menjemput pasien N dan istrinya. (Foto : Niaga Asia)

Osa menegaskan, swab pasangan suami istri itu, telah diambil dan dikirimkan ke Labkes di Surabaya, Jawa Timur. “Hasilnya masih kita tunggu,” ujar Osa.

Dalam penjelasan lebih lanjut, dipilihnya RSUD IA Moeis, lantaran rumah sakit itu, merupakan salah satu rumah sakit rujukan kasus Covid-19. “RS AWS dan RS IA Moeis adalah rumah sakit rujukan Covid di kota Samarinda. Sudah ada 1 orang PDP yang dirawat di sana (di RS IA Moeis),” kata Plt Kadinkes Samarinda Ismed Kusasih, dalam penjelasan terpisah.

Kasus Penolakan Isolasi Pertama

Plt Kadinkes Kaltim Andi saat ditanya Niaga Asia, dalam sesi tanya jawab konferensi petang ini tadi menerangkan, kejadian di Samarinda itu, pertama kalinya.

“Sampai sekarang ini, baru ini terima laporan, PDP yang tidak berkenan dirawat (di ruang isolasi),” kata Andi, dalam video conference.

Diterangkan Andi, sejatinya kasus PDP bergejala ringan, mengacu protokol Covid-19, dilakukan isolasi mandiri. “Tapi, apakah yang bersangkutan bisa disiplin? Ini yang membuat akhirnya, teman-teman memutuskan harus isolasi di rumah sakit,” terang Andi.

“Kalau kooperatif, bisa diisolasi di rumah. Dalam penaganan pasien isolasi, juga sudah disiapkan psikiater untuk pendampingan pasien. Karena psikiater, masuk sebagai bagian dari tim Gugus Tugas,” demikian Andi. (006)

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *