aa
Angkutan logistik dalam kota Samarinda dihadang aktivis Lingkar Studi Kerakyatan saat demo di Jalan Gajah Mada, Senin (25/3/2019)

SAMARINDA.NIAGA.ASIA-Kekerasan verbal, fisik, dan perusakan terhadap property Pemprov Kaltim dalam demo penolakan pembangunan pabrik semen di Kutai Timur di Jalan Gajah Mada, depan Kantor Gubernur Kaltim, Senin (25/3/2018), dilakukan Aliansi Masyarakat Penduli Karst (AMPK)  bukan aktivis Lingkar Studi Kerakyatan Kaltim.

“Yang demo kemarin, Aliansi Masyarakat Peduli Karst, bukan LSK,” kata A Muhammad Akbar, Humas AMPK, Selasa (26/3/2019) mengoreksi berita Niaga.Asia, sebelumnya dengan judul “LSR Menduga Aktivis LSK Sebelum Demo Minum Miras”.

LSR Menduga Aktivis LSK Sebelum Demo Minum Miras

Demo Mahasiswa di Samarinda Bentrok, 2 Polisi Terluka dan Wartawan Dikeroyok Mahasiswa

Gubernur Kaltim: Pabrik Semen Bukan di Kawasan Karst

Akbar menyebut, kekerasan yang terjadi dalam demo hari Senin, karena massa yang hadir hampir mencapai 1000 orang dan tidak yang bisa mengkondisikan agar demo berjalan tertib. Atas kejadian tersebut, lanjutnya, dia sudah bertemu teman-teman wartawan di lapangan untuk menyampaikan permintaan maaf. “Berita di Niaga.Asia yang menyebut aktivis sebelum demo minum miras, terlalu tendensius dan memojokkan gerakan,” kata Akbar.

Sementara itu, Wartawan Utama, Pemimpin Redaksi Niaga.Asia, Intoniswan mengatakan, dalam dua tahun terakhir sering demonstrasi atas nama forum atau aliansi yang berbeda-beda, tidak jelas badan hukumnya, dan proses pembentukannya, melakukan kekerasan verbal, melontarkan kata-kata yang melecehkan pihak yang mereka demo, atau memprovokasi polisi yang memberikan pengamanan. “Umumnya, aliansi-aliansi yang demo itu berisikan mahasiswa, masalahnya saat demo tidak menampilkan jati diri sebagai bagian dari masyarakat yang intelektualnya lebih baik,” ungkapnya.

Intoniswan menambahkan, pendemo sering salah menafsirkan keberadaan polisi yang melakukan pengamanan, seolah-olah berada di pihak yang mereka demo, padahal sebetulnya, polisi mengamankan pendemo itu sendiri dari amuk massa. “Kalau kemarin tidak ada polisi mengamankan mereka saat demo, AMPK itu sudah diamuk massa karena menghambat pengguna jalan yang jum lahnya ribuan orang,” terangnya. (001)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *